Wisman Ikut Nikmati Tumpeng Gelar Songo

0
533

tatiana-lena-dan-yanin-wisman-asal-jerman-ikut-berdoa-sebelum-menikmati-menu-tumpeng-pecel-pitik-pada-ritual-gelar-songo-di-balai-desa-glagah-kemarin


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

TRADISI warisan nenek moyang khas Desa Glagah, Kecamatan Glagah yang bertajuk Gelar Songo kemarin (16/10) kembali digelar. Dibandingkan tahun sebelumnya, ritual yang  biasanya diperingati tiap tanggal 9 Suro kali ini jauh lebih meriah.

Ratusan orang warga tumplek-blek menyaksikan arak-arakan warga yang membawa hasil bumi dan beberapa kesenian untuk meramaikan ritual bersih desa tersebut. Sebelum acara puncak tradisi Gelar Songo, warga telah melakukan berbagai rangkaian   kegiatan.

Mulai dari dari pembacaan lontar Yusuf, membaca Alquran dan  selamatan di makam Buyut Kai atau biasa dikenal dengan  buyut Gringsing. Barulah setelah rangkaian ritual digelar, acara puncak diisi dengan arak-arakan yang berisi berbagai kesenin seperti barong, pembawa seserahan, tandun yang  membawa pria dan wanita serta penari waria berkostum mirip BEC.

Setelah itu, semua warga berkumpul di balai  desa untuk berdoa bersama. Di hadapan mereka sudah tersedia puluhan pasang tumpeng lengkap dengan lauknya seperti sayur, pecel  pitik, tempe, telur dan mie. Tak ketinggalan buah-buahan hasil bumi asli Desa Glagah seperti pisang, ketela pohon, kacang tanah  dan ubi-ubian lainnya disediakan sebagai pencuci mulut.

Yang cukup menarik dan berbeda dari sebelumnya, tahun ini ada beberapa wajah wisatawan mancanegara yang hadir mengikuti tradisi Gelar Songo. Mereka tak sungkan ikut memanjatkan tangan dan mencicipi beberapa makanan khas Oseng.

Begitu doa usai dipanjatkan para wisman ini juga iku mengambil daun pisang  untuk memindahkan nasi tumpeng dan pecel  pitik. “So spicy” ujar salah satu wisman yang  duduk bersama Kasi Adat  Dinas Pariwisata  Banyuwangi, Aekanu Haryono.  Teguh Eko Rahadi, ketua panitia tradisi Gelar Songo mengatakan, perayaan ritual tahun ini terbilang lancar dan ramai.

Hal ini menunjukkan  bahwa ritual tersebut selain diterima masyarakat lokal, juga diterima oleh masyarakat luar. “Kita  sudah membuat sedemikian baik, sekarang  apalagi yang ditunggu kabupaten untuk  memasukkan acara kita dalam B-Fest” ujar ketua   BPD Desa Glagah itu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Banyuwangi Choliqul Ridha menambahkan, ritual ini terbukti sudah mampu menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dia berharap nantinya warga dapat memperoleh manfaat positif dengan perkembangan yang ada.

“Ini adalah potensi yang kita miliki, sekarang tinggal bagaimana nanti Desa Glagah bisa menjadi  jujugan wisatawan yang berangkat ke ijen. Terkait B-Fest, kita akan sampaikan ke Bupati, karena acara ini kami rasa layak,” kata Ridha. Gelar Songo sendiri, menurut penjelasan Kepala Desa Glagah, Muhammad Hairihi, memiliki makna keterikatan dengan angka  sembilan.

Sembilan selain diambil dari Asmaul Husna yang berjumlah 99, juga melambangkan sembilan lubang dalam tubuh manusia yang menjadi simbol duniawi. “Kita harus menjaga sembilan lubang ini agar hidup kita selamat,” ujarnya. (radar)

Loading...

Rack server merk baru DATEUP - sumber rejeki

Rack server merk baru DATEUP - sumber rejeki

Yuk gan segera order Rack Server DATEUP RACK PERTAMA DAN SATU SATU NYA DI INDONESIA Dengan desain yang sangat bagus…
08/21/2018
Surabaya

Baca Juga :