Tradisi Gelar Songo di Desa Glagah

0
1222

Punya Filosofi Menjaga Sembilan Lubang Tubuh

SETIAP tanggal 9 Suro masyarakat Desa Glagah melaksanakan selamatan desa yang bertajuk Gelar Songo. Tradisi itu merupakan tradisi warisan nenek moyang yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai ritual bersih-bersih Desa Glagah.

Sebelum tradisi Gelar Songo dilaksanakan, warga lebih dulu melaksanakan selamatan di depan rumah masing- masing. Mereka juga memanjatkan doa secara bersama dengan dipandu salah satu warga melalui pengeras suara di masjid setempat.

Keesokan harinya atau Kamis (22/10), tepatnya tanggal 9 Suro kalender Jawa, warga melaksanakan ritual adat inti. Ritual adat itulah yang disebut Gelar Songo. Gelar Songo wajib dilaksanakan warga sebagai ungkapan syukur dan penolak bala.

“ini wajib dilaksanakan. Kalau tidak dilaksanakan mesti ada suara baong (suara mengaung) terdengar di desa kami,” ujar Kepala Desa Glagah, Muhammad Hairihi.  Pagi kemarin, seluruh warga Desa Glagah sudah sibuk menyiapkan segala keperluan selamatan kampung di desanya.

Mulai masak-memasak  menyiapkan beberapa menu khusus didalam tumpeng Gelar Songo.  Dalam tradisi Gelar Songo, ada sembilan isi tumpeng yang dirasa wajib dihadirkan, antara lain jajan pasar; jenang (merah, putih, hitam, dan kuning), rengginang, pisang muda, sego golong, kinangan, uang gobog, sayur cingur, dan nasi kuning.

Kesembilan isi tumpeng tersebut memang wajib dihadirkan saat tradisi Gelar Songo.  Sebelum pukul 09.00 warga melakukan ider bumi keliling kampung membawa beberapa gunungan tumpeng yang telah dibuat. Iring-iringan itu tidak hanya terdiri atas warga yang membawa tumpeng.

Untuk menambah semarak, iring-iringan itu juga diikuti kesenian barong. Setelah melaksanakan arak- arakan keliling kampung, warga mendatangi makam nenek moyang mereka,  Buyut Gringsing. Buyut Gringsing dipercaya sebagai pembabat alas Desa Glagah pada zaman dulu.

Tumpeng yang berisi sembilan jenis isi tersebut juga dibawa ke makam, kemudian warga memanjatkan doa.  Dari makam Buyut Gringsing, warga Desa Glagah menuju balai desa untuk melaksanakan selamatan secara bersama-sama.

Tumpeng yang sebelumnya di arak keliling kampung itu dimakan secara bersama-sama setelah berdoa agar Desa Glagah dijauhkan dari bencana dan agar seluruh warga sehat dan selamat.  Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Choliqul Ridha, mengatakan warga mengunjungi makan Buyut Gringsing memang harus dilaksanakan pukul 09.00.

Mengapa harus pukul 09.00, karena angka sembilan pada ritual Gelar Songo ini memiliki filosofi yang sangat mendalam  bagi warga Desa Glagah.  Ridha yang juga warga Desa Glagah itu mengatakan, makna angka sembilan pada tradisi Gelar Songo adalah agar warga Desa Glagah menjaga sembilan lubang tubuh.

Sembilan lubang tubuh itu adalah dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, lubang mulut, lubang kemaluan, dan lubang anus. ‘Diharapkan, setelah ritual ini manusia bisa lebih berakhlak lagi. Menjaga tutur katanya dan lain sebagainya,” kata Ridha kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin.

Ritual tersebut tidak berhenti begitu saja. Setelah salat magrib kemarin warga Desa Glagah melakukan keliling kampung. Kali ini warga keliling kampung membawa oncor. Di setiap sudut Desa Glagah mereka mengumandangkan azan. (radar)