Dulu Hanya Terbaring, Kini Bisa Jalan Pakai Kursi Roda

0
101
Agus Syaifullah saat berjalan-jalan menggunakan kursi roda di sekitar rumahnya di Genteng Wetan, kemarin

Agus Syaifullah, 28, warga  RT 2, RW 2 Dusun Maron, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, setahun lalu sempat menghiasi halaman berbagai media. Maklum, saat itu dia diberitakan terbaring selama tiga tahun setelah mengalami kecelakaan tanpa perhatian yang serius. Bagaimana kondisinya kini?

SHULHAN HADI, Genteng

BANGUNAN rumah kayu yang berlokasi di RT 2, RW 2 Dusun Maron, Desa Genteng Wetan yang difungsikan menjadi gudang kayu tersebut  kondisinya tidak jauh berbeda dengan setahun lalu. Setahun lalu, Agus Syaifullah hanya bisa terbaring lemas di rumah tersebut.

Kala itu, jangankan untuk duduk, sekadar bersandar saja dia mengalami kesulitan. Peristiwa kecelakaan tragis menyebabkan bagian tubuhnya harus disangga menggunakan platina.

Hebatnya, dia bisa bertahan dalam kondisi serba sulit tersebut selama tiga tahun. Upaya dan dukungan yang diberikan warga, terutama kalangan media, akhirnya mengantarkannya kembali ke rumah sakit.

Mulai dari RSUD Genteng hingga menjalani operasi serius di RS Sutomo Surabaya. Waktu telah berlalu. Dukungan dari semua pihak tersebut kini mulai menampakkan hasil. Dengan bantuan kursi roda, dia sudah bisa berjalan-jalan di sekitar rumahnya.

Sore kemarin, Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) menyempatkan menjenguk pemuda yang pernah menjadi anak logam semasa kecilnya ini. Saat JP-RaBa datang, dia bersiap beranjak dari ranjangnya untuk duduk di kursi roda yang sudah mulai menipis ban rodanya.

Namun, Agus menghendaki saya untuk keluar rumah terlebih dahulu. Dia tidak ingin proses dia berpindah dari ranjang ke kursi dilihat. Sekaligus meyakinkan saya bahwa dia bisa melakukan itu semua secara mandiri. ”Nanti Sampean tidak tega melihat bekas luka saya,” ucapnya sembari terkekeh.

Loading...

Kursi roda yang menjadi tumpuan Agus tersebut tidak berbeda dari kursi roda lain. Hanya saja, injakan di bagian kaki kiri dihilangkan karena tidak bisa menopang kakinya. Sementara, di sisi kanan tangan kursi, ditambahkan sebuah wadah tempat air minum.

Menariknya, Agus yang perokok ini menyiapkan sebuah tempat sampah khusus puntung rokok dan sampah di sisi kirinya. ”Ini kresek untuk sampah Mas, saya buang di sini,” ucapnya.

Operasi yang dijalani Agus sejatinya masih harus dilakukan lagi untuk membuat saluran pembuangan yang lebih baik. Namun, dia mengaku sudah bersyukur dengan kondisinya saat ini. Berbagai aktivitas yang sebelumnya nyaris tidak bisa dilakukan kini mulai bisa dilakukan secara mandiri, seperti mencuci baju miliknya.

Dalam obrolan itu, beberapa kali Agus menegaskan tidak ingin lagi operasi. Alasannya bermacam-macam. Di samping ketiadaan biaya hidup, operasi justru cukup berisiko dan harus kontrol setiap tiga bulan sekali. ”Dokternya banyak yang baru, takut saya Mas,” ujarnya.

Beberapa kali para dermawan mendatanginya. Mereka menawarkan agar Agus bisa tinggal di panti sekaligus untuk diajari sejumlah keterampilan. Namun, tawaran baik itu tidak bisa dia sanggupi. ”Saya paling tidak bisa berdiam di rumah atau di panti, mohon maaf,” terang Agus.

Selain itu, alasan yang paling khusus adalah dia tidak mau merepotkan orang lain, karena saat malam, dia masih sering ”ngompol” akibat pencernaan yang dioperasi tersebut masih terhubung dengan selang. ”Saya ini tidak mau merepotkan orang lain. Kalau tinggal di panti nanti repot,” ucapnya.

Dalam waktu dekat, dia malah berkeinginan menjalani profesi tukang ojek atau antar-jemput anak sekolah. Saat ditanya bagaimana menjalani pekerjaan itu, Agus mengaku bisa dan mampu mengoperasikan sepeda motor yang sudah dimodifikasi menyesuaikan dengan kondisinya. ”Saya kuat Mas kalau ojek antar jemput anak sekolah, biar tidak merepotkan orang lain,” jelasnya.

Bagi Kasmuri, laki-laki yang selama ini merawat Agus, kondisi keponakannya yang berangsur membaik ini merupakan berita yang sangat menggembirakan. Terlebih saat mengetahui dia sudah bisa dan mau jalan dan melihat di sekeliling rumah. ”Kalau pagi biasanya di perempatan, kalau sore kadang main di MAN,” tandasnya.

Sekadar diketahui, kecelakaan yang menimpa Agus pada April 2013 lalu benar-benar membuatnya tidak berdaya. Setelah menjalani operasi karena patah tulang, ia hanya bisa berbaring. Selama tiga tahun, Agus hanya bisa tergeletak dengan platina masih menancap di perut.

Dia mengalami kecelakaan itu saat mengirim barang milik perusahaan hasil laut tempatnya bekerja. Saat itu, dia bersama rombongan tengah beristirahat di daerah Gresik. Saat tidur di samping truknya, tiba-tiba ada truk lain yang juga beristirahat berjalan. Tragisnya, truk bertonase tinggi yang berjalan itu melindas tubuh Agus. Tubuhnya terluka parah dengan tulang belakang patah. Oleh warga langsung dilarikan ke rumah sakit. Karena lukanya yang cukup parah itu, tubuhnya dipasang platina.

loading...