Abu Raung Berembus Lebih Dahsyat

0
690

Warga Sumberarum Berlarian Keluar Rumah

BANYUWANGI – Setelah sempat mereda, abu vulkanik yang meluncur dari puncak Gunung Raung kembali mewarnai langit Banyuwangi. Kali ini embusan abu lebih dahsyat karena bersamaan dengan cuaca buruk yang melanda Kota Gandrung.

Debu tidak hanya mengganggu penggguna jalan, tapi juga mulai mengotori rumah warga. Seharian kemarin (12/7) jalanan kota Banyuwangi dipenuhi debu Raung. Dahsyatnya angin disertai debu beterbangan juga merontokkan dahan pohon dan papan baliho.

Beruntung, angin kencang kemarin tak sampai menimbulkan korban jiwa. Hanya saja, masyarakat terganggu dengan banyaknya debu yang beterbangan. Tak sedikit warga mengenakan masker dan kacamata. Ini dimaksudkan untuk melindungi diri dari serangan debu yang masuk ke mata dan hidung.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi menyebutkan, kecepatan angin kemarin mencapai kurang lebih 58 km/jam. Hal ini disebabkan adanya beda tekanan yang cukup tinggi antara bumi belahan selatan dengan bumi bagian utara.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto Windiarto mengatakan, beda tekanan ini yang menyebabkan angin begitu kecang melanda Banyuwangi. Ditambah lagi, tekanan rendah di wilayah bumi bagian utara yang begitu banyak jumlahnya sehingga berimbas pada tingginya kecepatan angin di Banyuwangi.

”Angin bergerak dari Australia menuju ke utara, karena di belahan bumi utara banyak terjadi tekanan udara rendah, maka angin menjadi kencang. Angin itu bergerak dari tinggi menuju ke tekanan rendah,” kata Yustoto. Dari data BMKG, angin kencang yang melanda Banyuwangi terpantau  sejak pukul 08.35 kemarin.

Mengenai  kecepatan angin, dari data BMKG kecepatan angin kurang lebih bisa mencapai 58 km/jam. Prediksinya, angin seperti ini akan terjadi sampai hari ini, namun kecepatan angin  diprediksi akan semakin melemah. ”Untuk besok (hari ini) angin masih sama, tapi kecepatan agak menurun.

Baca :
Polisi Banyuwangi Mulai Sosialisasi Larangan Mudik 2021

Karena tekanan rendah dibelahan utara sudah berkurang,” jelas Yustoto. Angin kencang tidak hanya terjadi di wilayah Banyuwangi saja. Mengingat cakupan angin yang cukup  luas, maka daerah yang terkena imbas dari angin kencang ini bisa mencapai seluruh Pulau Jawa.

”Untuk daerah di dekat perairan angin terasa semakin kencang karena di sana tidak ada hambatan,” terangnya. Yustoto mengatakan, abu Raung sempat turun di wilayah Banyuwangi sehari sebelumnya dan terhempas oleh angin yang cukup kencang.

”Angin kencang bukan karena Raung, tapi murni karena tekanan rendah di belahan bumi utara itu. Kalau masih ada abu itu mungkin karena abu yang sudah jatuh ke tanah tertiup oleh angin kencang ini lapisan bawah ini,’’  tambahnya.

Arah angin yang membawa abu vulkanik kemarin kembali menuju arah tenggara. Ketinggian angin yang membawa abu vulkanik  kemarin terpantau berada pada  ketinggian 15000 feet dari permukaan  laut (dpl). Sementara kecepatan angin pembawa abu vulkanik masih  sama yakni berada pada kecepatan  15 knot atau 28 km/jam.

”Kecepatan angin lapisan atas dengan angin lapisan bawah itu berbeda. Kalau  lapisan atas itu angin yang membawa abu vulkanik, kalau lapisan bawah adalah angin yang kencang ini,”  tutur Yustoto. Terkait abu vulkanik, BMKG tidak  bisa memprediksi sampai kapan akan berakhir.

Hal ini tergantung dari aktivitas Gunung Raung. Kalau Gunung Raung masih mengeluarkan abu vulkanik, bisa dipastikan debu vulkanik yang beterbangan di Banyuwangi akan terus berlanjut. Debu vulkanik ini akan berakhir jika hujan turun di wilayah  Banyuwangi.

Namun, dari data BMKG hujan diprediksi tidak akan terjadi sampai beberapa hari ke depan. ”Abu  vulkanik yang terbawa angin ini sangat halus, jadi terombang ambing oleh angin. Kalau saja ada hujan, mungkin bisa cepat hilang abu vulkanik ini.

Baca :
Pemotor Tewas Diseruduk Mobil Terios

Tapi pantauan kami masih belum ada tanda-tanda  hujan,’’ tandasnya. Sementara itu, Gunung Raung masih menjadi perhatian publik. Hingga kemarin, aktivitas gunung terbesar di Pulau Jawa itu masih  tinggi. Hujan abu vulkanik yang mengguyur warga Banyuwangi pun  masih terus berlangsung.

Abu vulkanik akibat erupsi gunung tersebut memang membuat warga terganggu. Warga terpaksa menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas. Namun,  kali ini abu yang menghujani kawasan Bumi Blambangan lebih lembut jika di bandingkan sehari sebelumnya.

Ada fenomena menarik sebelum tragedi hujan abu vulkanik dengan volume lebih besar Jumat lalu. Bagaimana tidak, suara gemuruh yang terdengar warga terdengar lebih keras. Saking kerasnya suara gemuruh itu, kaca rumah warga bergetar.

Yang mencengangkan, suara gemuruh dengan volume besar itu terjadi pada siang hari. ‘’Suara gemuruh tidak seperti biasa, menggetarkan  kaca rumah rumah,’’ kata  Lutfiana Makrifah, warga Dusun  Pasar, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, kemarin.

Tentu saja, saking gedenya suara gemuruh mirip suara auman harimau membuat warga terkejut.  Bahkan, tidak sedikit warga yang  keluar rumah mendengar peristiwa  itu. ‘’Dikira ada gempa, ternyata  tidak,’’ kata ibu dua anak itu. Memang, jelas dia, kaca rumah warga yang berada di tepi jalan desa itu bergetar saat kendaraan, utamanya kendaraan muatan tebu melintas.

Tapi, setelah beberapa kali dicek tidak ada kendaraan yang melintas. ‘’Suara gemuruh di siang  bolong mirip geluduk,’  tandasnya. Sementara itu, abu vulkanik yang mengguyur warga tidak membuat aktivitas warga berhenti total. Hingga kemarin, warga yang tinggal di  kawasan zona merah tetap bekerja seperti biasa.

Warga yang mencari pakis di tengah hutan juga masih eksis. Sebagaimana diketahui. aktivitas Gunung Raung meningkat dari status waspada level II menjadi siaga level III pada tanggal 29 Juni lalu. (radar)