Agustus Puncak Musim Kemarau

0
514

BANYUWANGI – Musim kemarau panjang diprediksi akan berlangsung lama. Memasuki  bulan Agustus ini, intensitas hujan yang  terjadi lebih jarang lagi dibandingkan bulan sebelumnya. Malahan, bulan Agustus ini
merupakan puncak musim kemarau panjang  tersebut.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi dengan musim kemarau panjang tersebut, pihaknya menetapkan status keadaan darurat kekeringan di 9 kecamatan, yakni kecamatan mengklaim 9 Kecamatan Tegaldlimo, Tegalsari,  Purwoharjo, Muncar, Sanggar, Gambiran, Kecamatan Bangorejo, Kalipuro, dan Wongsorejo.

Dari 9 kecamatan tersebut, BPBD mengklaim  desa yang berpotensi terkena dampak  kekeringan sebanyak 28 desa. Prakirawan Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) Banyuwangi, Anjar Triono Hadi mengatakan, kemarau panjang itu adalah fenomena global.

Menurutnya, kemarau panjang itu hampir terjadi di seluruh Indonesia. Memasuki Agustussaat ini, kemarau akan semakin terasa dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. ”Agustus ini akan lebih kering karena akhir Agustus adalah puncak kemarau ini,” kata Anjar.

Meski memasuki musim kemarau, tapi pihak BMKG memprediksi potensi timbulnya hujan di Banyuwangi masih berpeluang. Namun, hal tersebut tergantung topografi wilayah di Banyuwangi. Jika topografi daerah di Banyuwangi lebih tinggi,  maka peluang terjadinya hujan masih besar.

”Kalau di daerah pesisir sangat kecil peluang terjadinya hujan. Oktober kami prediksi kemarau akan berakhir,” tambah Anjar. Sementara itu, sejak beberapa hari lalu aktivitas gelombang di Laut Selatan mengalami peningkatan cukup signifikan.

Bahkan, tinggi gelombang mencapai 3-4 meter. Pihak BMKG juga mengimbau masyarakat nelayan, khususnya nelayan  Laut Selatan, agar mewaspadai hal itu. Sebab, tinggi gelombang yang terjadi beberapa hari ke  depan masih cukup tinggi. ”Gelombang tinggi itu terpantau masih terjadi dua sampai  tiga hari ke depan,” pungkasnya. (radar)