Akibat Error Teknis

0
406
ADUKAN NASIB: Anak-anak asal Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Muncar ketika mengadukan nasibnya ke kantor DPRD Banyuwangi Rabu kemarin (24/10).
ADUKAN NASIB: Anak-anak asal Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Muncar ketika mengadukan nasibnya ke kantor DPRD Banyuwangi Rabu kemarin (24/10).

BANYUWANGI – Pengaduan warga terkait retaknya puluhan rumah penduduk dan satu fasilitas umum akibat pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu di Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, direspons cepat wakil rakyat.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Usai rapat dengar pendapat bersama perwakilan warga dan instansi terkait, beberapa anggota DPRD Banyuwangi langsung menggelar inspeksi mendadak (sidak) di lokasi pembangunan IPAL tersebut  Diperoleh keterangan, anggota dewan yang terjun ke lapangan adalah mereka yang terpilih dari daerah pemilihan (dapil III) yang meliputi Kecamatan Muncar, Srono, Cluring, dan Tegaldlimo.

Hasilnya, para wakil rakyat mendapati beberapa rumah warga retak akibat pemasangan tiang pancang IPAL yang didirikan di atas tanah eks Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tratas tersebut. Salah satu anggota DPRD asal dapil III, Sukirman mengatakan, pihaknya melakukan sidak ke lokasi pembangunan IPAL tersebut dengan tujuan mengetahui teknis penancapan tiang yang menyebabkan keretakan puluhan rumah warga.

Loading...

Alat yang digunakan menancapkan tiang ternyata sangat modern. Alat itu menggunakan tekanan angin, tidak lagi menggunakan sistem tumbukan manual. Peristiwa yang mengakibatkan rumah warga retak itu disebabkan error teknis,” ujarnya kemarin (25/10). Sukirman menjelaskan, kesalahan teknis yang menimbulkan getaran hebat hingga mengakibatkan rumah-rumah warga retak tersebut terjadi Kamis sore (18/10).

Kala itu, tenaga teknis yang bekerja di proyek pembuatan IPAL itu sudah pulang. Namun, beberapa pekerja lain nekat melanjutkan pekerjaan lantaran penancapan tiang ke dalam tanah hanya kurang 1,4 meter. Singkat kata, tiang pancang itu tiba-tiba tidak bisa masuk ke tanah. Untuk menyiasati problem tersebut, beberapa pekerja menambahkan besi pemberat di mesin yang berfungsi menancapkan tiang tersebut.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2