Alat Musik Hadrah di Kedungliwung

0
1599

alatProduksi Kampung Bisa Menembus Negeri Tetangga

KAMPUNG Kedungliwung dikenal sebagai produsen rebana. Ada beberapa perajin alat musik seni bernuansa Islami itu. Tak hanya melulu rebana, beberapa alat musik pendukung lain juga dibuat di kawasan tersebut. Sebut saja kendang, hajir, jidor, dan gong. Peralatan tersebut tidak hanya digunakan untuk seni hadrah dan kuntulan, tapi juga digunakan pengiring musik samroh, albanjari, marawis, dan kegiatan adat lain.

Sedikitnya ada enam pengusaha kerajinan alat musik pengiring hadrah kuntulan di Bumi Blambangan ini. Namun, usaha kerajinan yang didirikan M. Sholeh di Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, ini memiliki perbedaandengan perajin lain. Seluruh proses pembuatan alat musik tersebut dari awal hingga akhir dikerjakan langsung oleh mendiang M. Sholeh.Kini usahanya diwariskan kepada anak sulungnya, Nur Hakim.  

Usaha kerajinan musik pengiring hadrah dan kuntulan milik Sholeh itu mulai dirintis tahun 1950-an. Usaha tersebut juga sudahbeberapa kali jatuh-bangun. “Yang paling parah adalah tahun 1960-an, masa PKI bergejolak di Indonesia, khususnya di Banyuwangi. Partai Komunis membatasi kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan saat itu. Apalagi, kebudayaan yang sarat dengan nilai agama Islam, seperti hadrah dan kuntulan.

 Saat itu ayah saya menghentikan sementara produksi alat kuntulan dan kesenian yang dijalaninya,” kenang Nur Hakim. Begitu memasuki era Orde Baru, Sholeh perlahan merintis kembali usaha kerajinan yang dijalaninya. Akhirnya, usahanya sempat mengalami masa emas pada era 1980-an. Saat itu seni hadrah dan kuntulan mulai diperagakan kalangan perempuan. Padahal sebelumnya, tarian kuntulan biasanya hanya diperagakan kaum lelaki. Usaha kerajinan alat musik rebana itu tidak memiliki karyawan. 

Lanjutkan Membaca : 1 | 2