Angpao Lebaran yang Mencerdaskan

0
307

SUDAH menjadi tradisi di tengah-tengah masyarakat, setiap Lebaran ada agenda silaturahmi; mendatangi sanak-keluarga, kerabat, tetangga, dan handai-tolan. Tradisi yang banyak berkembang di Jawa ini sering disebut dengan unjung-unjung. Sementara itu, di kalangan pejabat pemerintah atau di beberapa instansi, silaturahmi ini lebih dikenal dengan istilah open house.

Biasanya, dilakukan di kediaman pejabat, pimpinan instansi, dan kantor. Tujuannya, selain saling bermaafan juga untuk lebih mendekatkan diri antara pimpinan dan rakyatnya maupun dengan anak buah dan keluarganya. Acara unjung-unjung atau open houseini biasanya dilakukan setelah salat Id. Umumnya, silaturahmi ini dikemas dengan agenda lain, seperti reuni atau temu kangen dan pertemuan bani (keluarga besar).

Yang menarik, pihak yang didatangi kerap memberi angpao kepada anak- anak. Nilainya tentu saja disesuaikan kemampuan. Meski demikian, angpao bukanlah suatu keharusan mengingat tidak semua orang bisa melakukan. Karena itu, Lebaran juga menjadi ‘’pestanya’’ anak- anak setelah menjalani puasa Ramadan maupun belajar menjalani ibadah puasa.

Saya sebut ‘’pesta’’ karena anak-anak banyak yang bergembira ria dengan membawa banyak uang baru yang didapat dari hasil unjung-unjung dan ikut open house orang tuanya. Sayang, uang itu banyak yang tidak termanfaatkan dengan benar, karena orang tua kurang kontrol. Ada yang digunakan membeli jajanan kurang sehat, membeli mainan yang tidak memiliki nilai edukasi, dan membeli kebutuhan lain-lain yang tak ada nilai manfaatnya.

Tentu hal itu sangat disayangkan. Apalagi, pasca Lebaran biasanya banyak anak-anak yang terserang radang tenggorokan karena memakan jajananyang tidak sehat. Sebab, kecenderungan anak-anak kalau sudah memegang uang, pasti ingin membeli se suatu yang menjadi kesukaannya. Kalau orang tua lengah, itu bisa membahayakan sang anak.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last