BANYUWANGI, KOMPAS.com – Karnaval sound horeg berlangsung di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldimo, Banyuwangi, Jawa Timur, diikuti 30 truk sound.
Namun, terdapat anomali pada karnaval sound tersebut kala sebuah truk hitam melewati kerumunan penonton yang justru menimbulkan gelak tawa penonton.
Dari video yang beredar di media sosial, sebuah truk bertuliskan “Sound Bisu.” Di bagian samping tertulis “Idolane Arek-Arek, Ora Niru Gayane Liyane, Menuju Indonesia Emas,” yang artinya idola masyarakat yang tidak meniru gaya orang lain, menuju Indonesia emas.
“Pelopornya Pak Is Mail atau biasa disebut Mangel, warga asli Desa Kedunggebang,” ungkap salah satu warga, Aditya Bagus, Kamis (28/8/2025).
Baca juga: Polisi Bubarkan Karnaval Sound Horeg di Blitar, Belasan Truk Ditahan
Aditya yang merupakan tetangga Mangel menyebut, sepengetahuannya, ide Sound Bisu Audio tersebut untuk memeriahkan serangkaian kegiatan acara karnaval di Desa Kedunggebang.
Dengan menggunakan armada truk boks keranjang plastik wadah buah ditata dan ditumpuk hingga tinggi pada bagian belakang menyerupai tumpukan sound yang biasa ditampilkan peserta karnaval sound horeg.
Semakin mirip ketika bagian belakang truk juga dilengkapi dengan hiasan mirip penjor, serta pada keranjang buah ditempeli gambar audio yang menimbulkan riuh tawa warga yang melihatnya.
“Kemungkinan biar beda dengan yang lain, sesuai dengan namanya Bisu Audio, tidak ada suaranya,” ujar Aditya.
Baca juga: Rencana Karnaval Sound Horeg dalam Rangkaian Hari Jadi Kabupaten Pasuruan Timbulkan Polemik
Respons masyarakat pun positif. Sebagian besar mereka menanggapi anomali sound horeg tersebut dengan tawa dan menyebut saking kerasnya suara yang dikeluarkan, terlalu horeg bagi telinga manusia.
Sementara itu, karnaval sound horeg di desa tersebut memang menuai antusiasme warga.
Beberapa pemuda dan hampir setiap RT mendaftarkan diri dan menyewa sound horeg untuk acara karnaval tersebut.
“Ada 30 peserta sound horeg dan salah satunya Bisu Audio, memang niatnya iseng-iseng buat ide yang lucu agar bisa menarik penonton,” ujar Aditya sembari tertawa.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!