Askes Optimalkan Pola Rujukan Berjenjang

0
209
BANTU Rp 600 JUTA: Dirut Askes, I Gede Subawa bersama Bupati Anas saat meninjau rumah sehat layak huni di Dusun Karang Ente, Kecamatan Giri, (4/6).

Banyuwangi Jadi Proyek Percontohan Puskesmas Berbasis Dokter Keluarga


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI-Mendapat pelayanan seadanya di Puskesmas, sudah biasa. Hanya dilayani perawat saat berobat karena dokter tidak berada di tempat, juga biasa. Namun, itu tidak akan terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur khususnya di Puskesmas Mojopanggung, Gitik, Singojuruh, Tegaldlimo, Sempu, Sepan jang, Sambirejo dan Pesanggaran.

Kedelapan Pus kesmas itu menjadi pilot project (proyek percontohan) pening- katan pelayanan kesehatan primer melalui program Puskesmas berbasis dokter keluarga yang digagas PT Askes (Persero). Masing-masing Puskes mas itu memiliki dua dokter yang memberikan pela ya nan kepada masyarakat khususnya peserta Askes.

Program itu merupakan langkah awal atau per siapan pengoperasian Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014. “Sebenarnya ini untuk meng optimalkan pola rujukan berjenjang dari Kementerian Kesehatan. Sebagian penyakit yang dikeluhkan masyarakat tidak semua membutuhkan penanganan dokter spesialis,” ujar Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa usai pencanangan program Puskesmas berbasis dokter keluarga di Puskesmas Mojopanggung, Banyuwangi, Senin (4/6).

Selama ini, kata dia, pola rujukan berjenjang itu tidak berjalan optimal karena aturan yang tidak ketat. Selain itu, jumlah dokter terbatas atau pendistribusian dokter tidak merata sehingga pelayanan di Puskesmas tidak maksimal dan masyarakat lebih memilih memeriksakan diri ke rumah sakit. Selama ini, Pus kesmas memang kerap hanya menjadi tempat untuk mendapat surat rujukan ke rumah sakit.

Itu yang menyebabkan terjadinya Puskesmas raksasa di rumah sakit. “Peran Puskesmas harus diaktifkan dan dioptimalkan. Keuntungan program Puskesmas berbasis dokter keluarga ini, peserta Askes tidak perlu jauh- jauh berobat, tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk ke rumah sakit. Komunikasi dokter Puskesmas dengan masyarakat pun lebih bagus. Selain itu, dokter mengubah perilaku menunggu pasien yang sakit.

Tetapi mengajak masyarakat hidup sehat dan bersih. Jadi, langkah preventif lebih dominan yakni dengan sosialisasi untuk hidup sehat dan bersih,” tuturnya. Program itu akan dievaluasi selama enam bulan ke depan. Jika terbukti efektif, program akan dite rapkan di daerah-daerah lain sehingga 2014 BPJS bisa beroperasi. “BPJS tidak bisa bergerak mulai 2014, harus disiapkan dari sekarang secara pro aktif.

Sekarang (Puskesmas berbasis dokter keluarga) hanya melayani peserta Askes. Setelah ada BPJS, melayani seluruh masyarakat. Pelayanan kesehatan berjen- jang (rujukan) dan rujuk balik dengan cara meningkatkan kinerja Puskesmas dan dokter keluarga sebagai gatekeeper akan dioptimalkan,” tegasnya. Dibalik optimisme suksesnya program itu, I Gede Subawa masih harap-harap cemas menunggu di- keluarkannya PP terkait UU BPJS yang saat ini ma sih digodok. Rencana awal, PP itu akan dikeluarkan November mendatang.

PP itu akan mempercepat langkah PT Askes (Persero) dalam mensosialisasikan BPJS. “Kami masih menunggu dikeluarkannya PP itu. Kalau sudah ada PP, sosialisasi bisa dilakukan secara massive dan intensif,” ungkapnya. Pada kesempatan yang sama, PT Askes (Persero) memberikan bantuan sarana umum dan peningkatan kualitas rumah sehat layak huni senilai Rp 600 juta. Ada seratus rumah tangga miskin yang direnovasi menjadi rumah sehat layak huni.

Seratus rumah itu berada di dua kecamatan yakni Kecamatan Banyuwangi dan Giri. Renovasi masing-masing rumah meliputi perbaikan dinding rumah setinggi 50 sentim- eter dengan batu bata plester, dinding atas dengan anyaman bambu yang dicat, pintu masuk dengan kusen dan daun pintu, jendela depan dengan kusen dan kaca, serta lantai dan teras diplester semen. Perbaikan masing-masing rumah memakan biaya Rp 5 juta.

“Di Jakarta, Rp 5 juta habis untuk makan di restoran Jepang saja,” seloroh I Gede Subawa saat meninjau rumah sehat layak huni di Desa Karang Ente, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dia tampak sangat bersemangat berkeliling desa itu meski matahari bersinar terik. Bertemu warga dan bercengkrama dengan mereka. Pria kelahiran Tabanan, Bali, 21 April 1951 itu sangat ramah, menyapa setiap warga yang ditemuinya.

Dia pun antusias melihat lingkungan sekitar termasuk salah satu dari beberapa MCK yang dibangun PT Askes (Persero) dengan total dana Rp 50 juta. “Ini bentuk kepedulian PT Askes,” katanya. “Kami sangat bersyukur dengan adanya bantuan dari PT Askes (Persero) ini. Awalnya, PT Askes ingin melakukan penghijauan di Banyuwangi. Tetapi akhirnya membangun rumah sehat layak huni ini.

Itu artinya, Pak Gede Subawa ini pemimpin yang sangat fl eksibel, bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pemerintah daerah,” puji Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. “Mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat dan bisa membantu mensukseskan program pemerintah daerah Banyuwangi dalam menyehatkan masyarakat,” sambung Gede Subawa.

Abdullah Azwar Anas menambahkan, di Banyuwangi total ada 45 Puskesmas. Ke depan, semua Puskesmas itu akan memiliki dua dokter (Puskesmas berbasis dokter keluarga) agar pelayanan yang diberikan optimal dan siap menyambut pengoperasian BPJS pada 2014. “Kami terus mendorong persiapan Puskesmas agar siap saat BPJS beroperasi nanti,” pungkasnya. (radar)

Loading...