Atap Diterjang Badai Dikira Gunung Meletus

0
304

atapWarga kaki Gunung Raung masih belum bisa bernapas lega. Selain dibayangi letusan gunung berapi, warga Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, juga was-was dengan angin kencang yang menerjang dua hari terakhir. SUARA gemuruh kerap kali terdengar warga akibat aktivitas gunung terbesar di Pulau Jawa itu.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Di waktu petang, warga bisa menyaksikan kepulan asap disertai sinar api menyembur di puncak gunung ter sebut. Fenomena alam tersebut membuat warga cemas. Jumat malam lalu (4/1), warga dikejutkan dengan kobaran api yang keluar dari puncak gunung yang memiliki luas kaldera 800 x 1.200 meter itu. Tanpa dikomando, warga banyak yang keluar rumah untuk melihat fenomena alam tersebut. Sebab, itu adalah yang pertama kali disaksikan warga. Sampai kemarin (9/1), aktivitas gunung yang memiliki kedalaman kawah 500 meter tersebut masih belum menunjukkan penurunan.

Sebab, suara gemuruh masih kerap terdengar. Tetapi, kini suara gemuruh tersebut tidak sepadat hari-hari sebelumnya. Sangat wajar bila warga yang ter sebar di tujuh dusun tersebut di hantui rasa takut atas erupsi gunung ter sebut. Namun demikian, mereka tidak mengungsi. Padahal, ketika aktivitas Gunung Raung meningkat bulan lalu, puluhan warga memilih meninggalkan rumah karena takut gunung tersebut benar-benar meletus.

Sekadar mengingatkan, saat itu warga yang tinggal di kawasan Perkebunan Bayu Kidul ramai-ramai menjual ternak miliknya Warga Dusun Lider terpaksa menjual sapi dan kambing mereka lantaran panik. Harga jual ternak pun anjlok. Hal itu tampaknya menjadi pengalaman bagi warga lereng Gunung Raung. Kini, mereka tidak lagi mengambil langkah cepat dengan ‘’pindah tidur’’, apalagi sampai menjual hewan ternak. Masyarakat memilih bersikap lebih dewasa sambil memperhatikan imbauan pemerintah.

Loading...

Sampai saat ini, status gunung yang berdampingan dengan Gunung Meranti tersebut masih belum berubah sejak tanggal 22 Oktober 2012 lalu, yakni berstatus siaga (level III). Gempa tremor yang terekam seismograf rata-rata masih di bawah 10 mm amplitude. Nah, kini warga juga terancam angin kencang. Selama dua hari terakhir hembusan angin cukup kencang. Akibatnya, se jumlah pohon tumbang. Tidak hanya itu, permukiman warga juga rusak akibat disapu angin. Rumah milik Juma’ati, warga Dusun Pasar, Desa Sumberarum, misalnya. Rumah milik ibu dua anak itu rusak lantaran di terjang angin kencang.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2