Bangun Jaringan Luar Negeri

0
377
DAPAT APRESIASI:Handoyo Saputro menyampaikan presentasi di hadapan calon pengelola LKP se-Indonesia di Hotel Sukajadi, Bandung, Selasa (24/4).

Desy Education Dapat Apresiasi di Bandung


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANDUNG-Inovasi Desy Education Banyuwangi dalam membangun jaringan kerja atau kemitraan Lembaga Kursus & Pelatihan (LKP), mendapat apresiasi dari para calon pelatih pengelola LKP se–Indonesia. Apalagi, jaringan yang dibangun Desy Education tak hanya di dalam negeri, tetapi menjangkau hingga luar negeri.

Apresiasi itu diberikan kepada Handoyo Saputro, SSos, MSi, MPd, Direktur Lembaga Pendidikan Desy Education Banyuwangi saat presentasi di hadapan peserta calon pelatih pengelola LKP se-Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan Direktorat PPTK PAUDI Kemendiknas RI di Hotel Sukajadi, Bandung, Selasa (24/4).

Dalam presentasinya, Handoyo menjelaskan bahwa pengelola lembaga kursus perlu menciptakan jaringan mitra kerja atau partnership sebanyak–banyaknya. Namun, harus tetap fokus dan benar-benar mendukung efektivitas program lembaga kursus tersebut.

“Misalnya melalui pembentukan Tempat Uji Kompetensi (TUK), bursa kerja , Desa Vokasi, City of Entrepreneur, Village of English, UPT Language Center atau bahkan menjalin kerja sama dengan sekolah–sekolah di luar negeri atau program sister school,” sebutnya dalam siaran pers yang dikirim kepada RaBa, Selasa malam.

Salah satu faktor penting dalam membangun jaringan kerja atau kemitraan, lanjut Handoyo, adalah tingginya kesenjangan kompetensi antara lulusan LKP dengan kebutuhan pasar kerja. Sebagian besar lembaga kursus belum memiliki akses yang luas dengan dunia usaha dan industri (Dudi). Lemahnya link dengan dunia usaha dan industri, menyebabkan kesenjangan kompetensi yang semakin lebar antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar.

“Sehingga banyak lulusan lembaga kursus yang tidak terserap ke dunia kerja,” ungkapnya. Ada beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh LKP dalam membangun link atau networking. Strategi pertama adalah resourceful and creativity. Saat ini, masih banyak sumber daya potensial di masyarakat, baik di lingkup pedesaan atau perkotaan, yang belum diberdayakan secara optimal untuk pengembangan LKP ke depan.

Hal itu merupakan suatu peluang usaha bagi LKP. “Bagaimana menciptakan suatu ide-ide atau program keterampilan baru yang langsung diterapkan, baik di dunia kerja atau berwirausaha,” cetusnya. Oleh karena itu, imbuh dia, LKP dapat bersinergi dengan dunia usaha dan industri. Termasuk, lembaga keuangan, seperti perbankan dan koperasi.

Selain itu, organisasi kemasyarakatan, termasuk karang taruna, asosiasi profesi, lembaga prasekolah atau pondok pesantren, dan akademisi. “Tentunya dengan dukungan Pemkab, legislatif, Dinas Pendidikan, serta dinas atau instansi terkait lainnya, seperti Disnakertrans, Dinkes, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pertanian dan Peternakan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan,’’ sebutnya.

Strategi kedua adalah innovation and opportunity. Asas saling menguntungkan merupakan fondasi yang kuat dalam membangun kemitraan. LKP dengan pihak yang bermitra harus saling memberi kontribusi sesuai peran masing-masing. “Semua pihak harus merasa diuntungkan, sehingga akan timbul terobosan baru
dalam rangka peningkatan hasil atau pendapatan,” jelasnya.

Nah, strategi ketiga adalah expanding access. Melalui jaringan kerja sama yang semakin baik dan meluas, secara otomatis akan memperluas akses lembaga. Seperti akses informasi, teknologi, modal, pasar, dan praktik kerja industri atau
magang. “Kemitraan dengan berbagai pihak terus dibangun. Baik dengan pemerintah sebagai pengambil kebijakan, dengan masyarakat selaku konsumen atau pelanggan, maupun dengan Dudi selaku pengguna lulusan,” papar pria yang menjadi Asesor Akreditasi BAN PNF Kemendiknas RI itu. (radar)

Loading...

There were no listings found.