Banom NU Kecam Radikalisme

0
425
KECAM: Sejumlah aktivis badan otonom NU berdiskusi di kantor PCNU Banyuwangi kemarin.
KECAM: Sejumlah aktivis badan otonom NU berdiskusi di kantor PCNU Banyuwangi kemarin.

BANYUWANGI – Aksi pembubaran diskusi buku “Allah, Liberty and Love” , di kantor Yayasan LKiS Jogjakarta oleh massa yang menyebut diri sebagai Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mengundang keprihatinan Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banyuwangi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Para aktivis muda NU itu mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok yang mengaku MMI dengan dalih pemurnian ajaran Islam tersebut. “Yang dilakukan saat pembubaran diskusi di Yayasan LKiS adalah bentuk kekerasan dan radikalisme yang berkedok agama,” ujar juru bicara Forum Banom NU dan PMII Banyuwangi, Mashud.

Loading...

Diskusi buku di kantor Yayasan LKiS Sorowajan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, itu merupakan kegiatan ilmiah yang keberadaannya dijamin UUD 1945. “Membubarkan kegiatan yang telah dijamin UUD 1945 berarti pembangkangan terhadap konstitusi,” kata Mashud. Selain melanggar konstitusi, lanjut Mashud, pembubaran dan kekerasan dalam diskusi buku itu merupakan upaya pemaksaan kehendak dan pembungkaman kreativitas.

“Islam itu damai dan sangat menjunjung toleransi terhadap keberagaman,” ujarnya. Untuk menanggapi aksi kekerasan dan radikalisme itu, mereka dengan tegas menyatakan menolak tindak kekerasan dengan mengatasnamakan agama. “Pelaku kekerasan di Yayasan LKiS harus diusut hingga tuntas,” tegas Mashud.

Dalam siaran pers di kantor PC NU Banyuwangi kemarin, mereka menuntut aparat keamanan dan pemerintah agar tegas terhadap kelompok radikal. Selain itu, mereka juga menuntut pembubaran MMI dan ormas-ormas Islam yang suka melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. “Bagi kami NKRI (Negara kesatuan Republik Indonesia) adalah harga mati,” cetusnya. (radar)

Lanjutkan Membaca : 1 | 2