Bayi Tanpa Batok Kepala di Kecamatan Srono Akhirnya Meninggal

0
211

Bayi-Tanpa-Batok-Kepala-Di-Kecamatan-Srono-Akhirnya-Meninggal


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

GENTENG – Bayi laki-laki yang terlahir tanpa batok kepala atau anenchepalus tidak berumur panjang. Putra pasangan Abdul Wahab,  39, dan Yuliatin, 39, asal Dusun  Wagud, RT 3, RW 3, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, itu pada Minggu sore (28/8) meninggal.

Bayi yang sedang menjalani perawatan di ruang perinatalogi RSUD Genteng itu meninggal sekitar pukul 16.00. “Saat meninggal sengaja tidak kita sampaikan ke  media demi menjaga privasi keluarga,” cetus dr. Anak Agung Gede Dalem, Sp. A yang menangani bayi malang itu.

Menurut Agung, bayi dengan kondisi anenchepalus itu kebanyakan hanya bertahan dalam hitungan hari. Hal itu karena selain batok kepala tidak utuh, kondisi otaknya tidak sempurna. “Kasus seperti ini otaknya itu sebagian  tidak ada,” jelasnya.

Bayi tanpa batok kepala yang meninggal itu, terang dia, kondisinya sangat lemah. Sampai meninggal, pihaknya masih menunggu kondisinya stabil. “Kondisinya masih belum stabil,” ungkapnya. Bayi yang lahir tanpa batok kepala,  terang dia, bukan kasus langka. Di beberapa daerah kasus seperti  itu sering terjadi. Bahkan, di Surabaya cukup sering terjadi.

“Sudah banyak terjadi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng. Penyebab bayi lahir tanpa batok  kepala, jelas dia, belum diketahui secara pasti. Tetapi, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kondisi janin, di antaranya asupan  gizi ibu hamil ketika mengandung bayi.

“Saat usia kehamilan satu bulan, bisa saja kekurangan asam folat. Sayur bayam itu banyak mengandung asam folat,” katanya. Selain soal gizi, Agung menyebut faktor genetis juga berpengaruh. Di samping itu, faktor luar, seperti radiasi. “Bisa radiasi elektronik, sinar radio, sinar las, atau obat yang terkandung dalam makanan,” ungkapnya. 

Agung menyebut, semua gangguan atau kelainan pada bayi bisa dideteksi jika keluarga rutin periksa sejak dini. Kasus anenchepalus bisa diketahui sejak  usia 20 minggu kandungan. “Kalau di USG itu umur 20 minggu sudah kelihatan,” jelasnya. 

Meski gizi ibu hamil itu telah di penuhi dari luar, dia menyarankan ibu hamil tetap rutin periksa ke dokter.  Itu untuk mengetahui sejak dini apabila ada keluhan atau kondisi yang tidak normal pada bayi maupun ibu. “Yang pasti periksa itu penting,” jelasnya.  

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Genteng sebelumnya, bayi laki-laki tanpa batok kepala atau anenchepalus lahir di RS Medika Rahayu, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Jumat (26/8). Untuk perawatan, putra pasangan Abdul Wahab, 39, dan Yuliatin, 39,  warga Dusun Wagud, RT 3, RW 3, Desa Kebaman, itu dirujuk ke RSUD Genteng.

Menurut Abdul Wahab, 39, ayah bayi, anak keduanya yang terlahir tanpa batok kepala itu lahir pada Jumat  (26/8) sekitar pukul 10.30. Pada Sabtu pagi (27/8) di bawa  ke RSUD Genteng. “Sempat dirawat di Srono,” terangnya.

Meski bayinya dirujuk ke RSUD Genteng, terang  dia, istrinya masih dirawat di RS Medika Rahayu  Srono. Hingga saat ini istrinya masih belum tahu  kondisi anaknya. “Istri saya masih lemas,” katanya  sambil mengaku dirinya menjaga anaknya dengan meninggalkan pekerjaan. (radar)

Loading...

Baca Juga :