Belum Ada Solusi, Dokter Sarankan Amputasi

0
416

belumMuhammad Farid Akbar kini hanya bisa pasrah dan berdoa. Akibat serangan tumor ganas, dokter menyarankan agar kaki bocah yang tinggal di Kecamatan Kendit, Situbondo, itu diamputasi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PENYAKIT osteosarcoma atau tu mor ganas pada tulang masih menghantui kehidupan Farid Akbar. Ka rena belum mendapatkan solusi, kini siswa kelas dua Madrasah Tsa nawiyah (MTs) itu hanya bisa pas rah sembari terbaring di tempat tidurnya. Sore itu, Farid terlihat sangat lemas dan cukup kritis. Sesekali bocah itu pingsan alias tak sadarkan diri. Meski demikian, putra pasangan suami istri (pasutri) Watimin dan Nurwinda itu tetap semangat bertahan hidup.

Menderita tumor di tulang kaki di akuinya sangat menyakitkan. Meski begitu, anak tersebut jarang me ngeluh dan tetap tersenyum saat ada tamu yang datang. “Dia (Farid) jarang mengeluh,” ujar Watimin. Delapan bulan lalu, Farid masih bisa menjalani hidup seperti pelajar kebanyakan. Saat itu, dia masih bisa berjalan, bermain, belajar, dan sebagainya. Namun, setelah terserang tumor ganas pada tulang kaki kirinya, Farid hanya bisa diam dan sabar.

Dua pekan lalu, anak 13 tahun itu kembali dibawa ke dokter karena kondisinya sangat mem prihatinkan. Sesampainya di rumah sakit, tim dokter menyarankan agar kaki kiri pelajar yang tinggal di Dusun Krajan Se latan, Desa Kendit, itu diamputasi. Farid dan keluarganya terkejut mendengar keputusan itu. Tetapi, demi kelangsungan hi dupnya, mereka pun pasrah bila kaki kiri yang diserang tumor ganas itu diamputasi.

“Keluarga pasrah. Tidak ada pilihan lagi demi hidupnya,” kata Watimin. Sewaktu divonis bahwa kakinya harus diamputasi, sebenarnya Farid tetap opname agar terus mendapat perawatan medis. Ka rena kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan, kedua orang tuanya memilih rawat jalan.

Sudah delapan bulan terakhir Farid terba ring di ranjang kamar depan dengan kon disi seluruh bagian tubuhnya kurus. Ta  gannya tidak pernah lepas dari infus, se dangkan kaki kirinya terus membesar lantaran tumor ganas di tulang lututnya. Karena itu, kondisi Farid hampir mirip bayi. Dia tidak bisa berbuat banyak selain ter baring di tempat tidur. “Tidak bisa apaapa.

Rasanya sangat sakit. Kalau sembuh, saya mau sekolah lagi,” ujar Farid sambil me nahan rasa sakit. Keadaan yang demikian bukan tanpa disertai usaha keluarga, sebelumnya Farid su dah dioperasi dengan dana Rp 25 juta. Ka rena tumor di tulang kakinya semakin be sar, anak itu harus ditangani tim medis lebih serius lagi, dan kali ini katanya ka kinya harus diamputasi. “Sekarang maunya begitu.

Walaupun diamputasi, kami pasrah. Te tapi, kami tidak memiliki dana, karena dulu putra saya juga sudah dioperasi,” kata Watimin. Akibat keganasan tumor di lutut Farid yang konon penyebabnya masih belum di kenali dan banyak menyerang anak di bawah umur 20 tahun itu, membuat ke luarganya semakin susah. Keluarga harus te rus menjaga putranya yang sakit itu setiap waktu.

Farid dan kedua orang tuanya berharap tu mor kaki yang menyerang tulang itu segera ada solusinya meski harus diamputasi. Namun, mereka belum bisa membawa anak itu ke rumah sakit lantaran tidak ada biaya. “Sudah benar-benar tidak punya bi aya. Kami tidak tahu. Mau bagaimana se lain pasrah dan berdoa,” kata Watimin. (radar)