Belum Normal, Operator Kapal Rugi Besar

  • Bagikan
Foto: Radar Banyuwangi – Jawa Pos

BANYUWANGI – Era kebiyasaan anyar atau “New Normal” tampaknya bergerak lambat. Para pengusaha transportasi angkutan laut di Selat Bali mengaku rugi besar selama pandemi COVID-19. Penurunan jumlah penumpang kapal mencapai 80 persen.

Dilansir dari Radar Banyuwangi – Jawa Pos, Ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Putu Widiana mengatakan, penurunan terus dirasakan sejak awal merebaknya virus Korona. Akibat kondisi ini, pengusaha kapal merasakan kesulitan pembiayaan operasional.

Pemberlakukan penyesuaian tarif kapal seolah tidak banyak berpengaruh. Beberapa perusahaan bahkan sudah menerapkan kebijakan untuk menggaji karyawan 50 persen dari gaji aslinya. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya operasional.

“Operasional susah, penurunan penumpang sangat terasa sampai 80 persen. Kalau terus seperti ini kita tidak mungkin tidak bisa melakukan perawatan kapal,” ungkapnya.

Putu mencontohkan, banyak operator kapal hanya bisa mengumpulkan uang antara Rp 130 ribu sampai Rp 250 ribu sekali jalan. Padahal, solar yang dibutuhkan kapal untuk satu trip mencapai 105 liter.

Putu membenarkan jika ada salah satu perusahaan yang kapalnya terancam disegel oleh bank. Kemungkinan dikarenakan terlilit biaya dan tidak mampu membayar angsuran.

“Informasinya memang ada satu kapal. Sementara baru satu ini, tapi tidak menutup kemungkinan bisa menyusul yang lain. Kita harap bisa segera normal di saat new normal,” tandansya.

Baca :
Tahun 2021, Angka Kemiskinan dan Pengangguran di Kabupaten Banyuwangi Naik
  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: