Berangkat ke Gorontalo atas Biaya Sendiri dan Pesantren

0
763

berangkatMuhammad Shodiq Purnomo, santri Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Kecamatan Tegalsari, berhasil mengharumkan nama Banyuwangi ke pentas nasional. Belum lama ini, santri berusia 17 tahun itu berhasil meraih juara I lomba pidato tingkat nasional di Gorontalo yang diselenggarakan Kementerian Agama RI.

GAYANYA cukup santai. Raut wajahnya juga terlihat kalem saat berbincang dengan lawan bicara. Itulah M. Shodiq Purnomo yang akhir bu lan lalu berhasil meraih juara I  om ba pidato tingkat nasional dalam Pe kan Olahraga dan Seni Pondok Pe santren Nasional di Gorontalo yang diselenggarakan Kementerian Agama RI. Lomba pidato berbahasa Indonesia tersebut diikuti 29 peserta.

Mereka adalah utusan masing-masing pro vinsi yang sebelumnya mengikuti se leksi di tingkat kabupaten dan provinsi masing-masing. Saat mengikuti lomba pidato tingkat nasional, adadua tahap yang harus dilalui, yaitu se mifi nal dan final. Setiap peserta juga diwajibkan membawakan tema yang berbeda di setiap sesi.Saat semifinal, Shodiq yang asli warga Dusun Krajan, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, itu membawakan tema “Peran Pe santren Dalam Upaya Penang gulangan Terorisme dan Radikalisme.

Tema itu sengaja dia angkat karena belakangan masalah teroris cukup mempri hatinkan bagi bangsa dan negara In donesia,. ”Padahal, agama Islam kan ti dak boleh memaksakan agama kita  kepada orang lain. La iqro’a fi ddini. Tak ada pak saan dalam beragama,” tandas Shodiq. Tanpa dia duga, tema yang dibawakan me lalui pidato itu mengantarkannya ke ba bak fi nal. Kali ini dia bersaing dengan lima peserta dari lima provinsi yang samasama lolos ke babak fi nal.

Di tahap fi nal, tema yang dibawakan berbeda dengan se belumnya, yaitu “Menjunjung Tinggi Sportivitas dan Merajut Tali Silaturahim antar Pesantren Nasional”. Tema tersebut dimaksudkan agar semua pesantren di Indonesia bisa berlombalomba dalam kebaikan, memaksimalkan se mua potensi demi memajukan bangsa dan negara, serta untuk dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Lagi-lagi tanpa di duga, tema yang dibawakan Shodiq dengan gaya pidato yang khas itu membuat dewan juri dari Kementerian Agama memberinya nilai tinggi. Shodiq akhirnya mengalahkan empat peserta lain. Dia berhasil menjadi juara satu. Shodiq bukan hanya mampu meng harumkan nama pesantren tempatnya be lajar di Blokagung, tapi juga membawa nama baik Banyuwangi dan Jawa Timur.

Atas prestasinya tersebut, Shodiq yang be rangkat ke Gorontolo atas biaya pribadi dan pesantren itu berhak mendapatkan medali emas, maskot boneka jagung Gorontalo, dan Tabanas BNI. Keberhasilan Shodiq mengharumkan nama pesantren dan Banyuwangi ke kancah nasional sebenarnya di luar dugaan banyak orang. Sebab, dia memang tidak pernah belajar secara khusus cara berpidato yang baik dan benar.

Meski bapaknya, Samsul Hadi, 45, seorang juru dakwah di kampung, tapi sejak kecil dirinya tak pernah diajari cara berpidato oleh orang tuanya tersebut. Satu-satunya pengalaman berpidato waktu kecil, yaitu saat duduk di bangku kelas 4 di SDN 4 Sarongan. Kala itu, Shodiq kecil per nah diminta menghafal teks pidato pe ringatan Maulid Nabi Muhammad SAW oleh gurunya.

Pengalaman lain, dia me ngikuti lomba pidato ketika masuk Pesantren Blokagung, baik tingkat asrama maupun tingkat pesantren dengan bim bingan Ustad Mahrus. Satu hal yang dia ingat ketika akan mengikuti lomba pidato, Ustad Mahrus selalu berpesan agar jangan melihat peserta lain tampil di atas mimbar. “Tujuannya sederhana. Bila peserta lain terlihat bagus, su paya tidak grogi.

Bila peserta lain jelek, agar saya tak merendahkan. Jadi, mending tidak usah melihat,” tutur Shodiq. Setelah berhasil meraih juara satu, Shodiq berharap Pemkab Banyuwangi dan Pem prov Jatim memberikan perhatian ke pada Porpenas. Sebab, selama ini pemerintah terkesan kurang memberikan per hatian kepada Porpenas, Porpeda I mau pun II. ”Padahal, pekan olahraga dan seni pe santren itu juga aset yang per lu di per hatikan sebagaimana yang lain,” tandas Sho diq seraya berharap atas pres tasinya ter sebut dia bisa menunaikan iba dah umrah dengan perhatian pemerintah. (radar)