Beras Germinasi BWI Dikonsumsi Warga AS

0
431


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SINGOJURUH – Banyuwangi  memiliki sumber pangan yang melimpah, selain beras murni, petani Banyuwangi juga berhasil mengembangkan beras germinasi. Beras germinasi memiliki nilai  ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding beras biasa.

Saat ini, beras germinasi dijual Rp 70 ribu per satu kilogram. Sedangkan beras biasa hanya dijual  sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 15  ribu saja. “Beras germinasi belum  kita produksi untuk konsumen lolak Banyuwangi. Produksi kita baru terserap untuk konsumen warga Amerika Serikat saja,” ungkap Samanhadi, pengembang beras  germinasi asal Desa Sumber Baru, Kecamatan Singojuruh.

Untuk sementara, kata Samanhadi, pihak baru mengirim tiga kwintal beras germinasi ke AS setiap bulan. Permintaan pasar beras germinasi ke AS terus meningkat dan memiliki prospek  pasar yang cerah karena beras germinasi terus diburu konsumen.

Loading...

“Saya belum bisa kirim sendiri ke AS tapi masih melalui teman di Bali,” kata Samanhadi. Selain memenuhi permintaan  pasar AS, Samanhadi mengaku  sedang proses produksi untuk  memunuhi pasar lokal Indonesia.  PT Nutrifood Jakarta sudah order 15 ton beras germinasi setiap bulan mulai bulan depan.

“ Beras gerinasi kita produksi dari jenis  beras melik atau beras hitam organik yang bebas 100 persen dari bahan kimia,” katanya. Beras germinasi ini, dibuat dengan cara dikecambakan dengan  metode direndam selama 12 jam untuk menghasilkan kecamba.

Beras ini, ditemukan peneliti asal   Jepang dan menjadi konsumsi sebagian warga Jepang karena memiliki keunggulan tersendiri.  Kepala Dinas Perikanan dan  Ketahanan Pangan (PKP) Hary  Cahyo Purnomo mengatakan, beras germinasi memiliki nutrisi  yang cukup tinggi. Karena itu, konsumsi beras germinasi lebih  sehat dan menyehatkan untuk  badan.

Hary menyebutkan, orang Indonesia rata-rata mengkonsumsi 130 kilogram beras biasa per tahun.  Sedangkan jika mengkonsumsi  beras germinasi, satu orang hanya akan mengkonsumsi 65 kilgram  saja. “Jika ini yang terjadi, maka ada terjadi keseimbangan produksi dan konsumsi,” katanya.

Saat ini, ungkap Hary, lahan untuk produksi beras beras merah  organik sebagai bahan baku geras germinasi hanya 100 hektare. Ke  depan seiring dengan terus meningkatnya permintaan beras germinasi, petani butuh tambahan lahan sekitar 70 hektare.

“Kita akan mendorong petani untuk terus mengembangkan sumber-sumber  pangan baru. Beras germinasi ini,  hanya ada yang memproduksi di  Jepang dan di Banyuwangi,”  kata Hary. (radar)

Loading...