Berbahan Bakar Elpiji, Hemat Biaya 71

0
461

berbahanMusim kemarau mengakibatkan pengeluaran petani di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, membengkak. Petani harus mengeluarkan ongkos tambahan biaya bahan bakar pompa air. Namun dengan sentuhan kreativitas, biaya tinggi itu tampaknya segera bisa ditekan. Jarum jam masih menunjukkan pukul 09.00 saat kami memulai perjalanan menuju Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, kemarin (27/10). Namun, meskipun hari masih pagi, sinar matahari sudah cukup terik.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Maklum, wilayah Banyuwangi dan sekitarnya memang dilanda musim kemarau sejak beberapa bulan terakhir. Suasana tak jauh berbeda terjadi di areal persawahan Desa Blimbingsari. Bahkan, pemandangan cukup ekstrem kami jumpai di lokasi tersebut. Betapa tidak, beberapa petak sawah tampak mengering dan tak terurus. Sawah eks lokasi tanaman padi, itu tampak ditumbuhi rumput. Belakangan diketahui, pemilik sawah sengaja membiarkan lahan miliknya tak terurus. Itu dilakukan lantaran air irigasi sulit di dapat sejak beberapa bulan yang lalu.

“Tanaman padi di sawah ini sudah dipanen sejak Agustus yang lalu. Karena saat ini air irigasi sulit didapat, pemilik sawah terpaksa menunda tanam hingga musim hujan tiba,” ujar H. Achmad Hartoyo, 46, warga sekitar. Pemandangan bertolak belakang terhampar tak jauh dari sawah yang tanahnya kering-kerontang itu  Pasalnya, tanaman padi tumbuh subur di sawah seluas 1,1 Hektare (Ha) milik Hartoyo. Rupanya hal itu terjadi lantaran sang pemilik sawah rutin mengairi lahan miliknya.

Tetapi lantaran air irigasi sulit didapatkan, pria yang juga menjabat Kepala Desa (Kades) Blimbingsari, itu memanfaatkan air sumur untuk mengairi sawah tersebut. Air sumur itu disedot ke permukaan dengan menggunakan mesin pompa air berkekuatan 6,5 PK. Proses mengairi sawah dengan “bantuan” pompa air itu rupanya “menyedot” anggaran cukup besar. Bayangkan, pengoperasian pompa selama satu jam membutuhkan bahan bakar bensin sebanyak satu liter.

Padahal, untuk mengairi sawah seluas satu Ha lebih, itu penyedotan air harus dilakukan sejak pagi hingga sore hari. Jika penyedotan air dilakukan selama 12 jam per hari, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan bakar mesin pompa, itu mencapai Rp 78 ribu dalam sehari (harga satu liter bensin Rp 6.500). Biaya tinggi yang harus dikeluarkan petani untuk mengairi sawah agar tidak sampai gagal panen, itu rupanya memantik hati kecil Hartoyo untuk bereaksi mencari jalan keluar.

Baca :
Ratusan Hektare Hutan di Alas Purwo Terbakar

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last