Bule Eropa Menikmati Pecel Pitik di Ritual Tumpeng Sewu 2017

0
164
Bule menikmati Pecel Pitik di Selametan Tumpeng Pitu, Banyuwangi. (Foto: detik.com)

BANYUWANGI – Puluhan bule dari Eropa nampak menikmati kuliner khas Banyuwangi, Pecel Pitik, saat digelar Selametan Tumpeng Sewu, Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Kamis (24/8/2017). Meski kepedesan, mereka mengaku masakan yang hanya bisa ditemui saat upacara adat dan ritual ini sangat lezat.

“It’s spicy but delicious. I never had Indonesian traditional food like this before,” ujar Morgan, salah satu bule dari Perancis kepada detikcom.

Bule menikmati Pecel Pitik di Selametan Tumpeng Pitu, Banyuwangi. (Foto: detik.com)

Menurut wanita yang baru saja menikmati pemandangan Kawah Ijen ini, suatu kehormatan bagi dirinya yang bukan siapa-siapa bisa menikmati dan mengikuti kegitan ritual. Apalagi bisa makan bersama dengan hanya menggunakan tangan dan dengan piring daun pisang. “Amazing. Agak sulit makan dengan hanya menggunakan tangan. Saya tidak menyangka ikut dalam kegiatan tradisional seperti ini,” tambahnya.

Loading...

Hal yang sama diungkapkan oleh Kevin. Bule asal Jerman ini juga mengaku senang dengan rasa masakan yang dibuat oleh warga Kemiren. Bumbu masakan sangat jarang dirasakannyasaat diriny di negaranya. “Di Jerman tidak ada masakan seperti ini. Saya hanya merasakan rendang di Jerman,” tambahnya.

Puluhan bule ini berkumpul dan makan bersama dengan masyarakat tepat di depan Balai Desa Kemiren. Mereka tak canggung saat disuguhi makanan saat ritual ini berlangsung. Sesekali mereka juga mengabadikan makanan khas yang berbahan ayam kampung dan bumbu kacang tersebut. Mereka bersila mengikuti kegiatan tersebut hingga usai.

Kegiatan ritual Selamatan Desa Tumpeng Sewu ini, bukan hanya sebuah ritual adat, namun festival ini kini menjadi atraksi wisata Banyuwangi yang diminati wisatawan. Pada event ini ribuan masyarakat dari berbagai penjuru desa maupun wisawatan hadir di desa Kemiren untuk menikmati ribuan Tumpeng Sewu.

Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar seminggu sebelum Idul Adha. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Djajat Sudrajat mengatakan Banyuwangi terus konsisten mengangkat tradisi lokal Banyuwangi dalam balutan Banyuwangi Festival. Menurut Sekkab, tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak diminati wisatawan. Saat ini banyak travel yang membuat paket-paket wisata yang memasukkan atraksi budaya sebagai salah satu destinasinya.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Kami akan terus mendorong bentuk-bentuk wisata seperti ini. Karena wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi. Mereka yang setelah dari Gunung Ijen, atau sekedar mengunjungi Banyuwangi bisa menikmati dulu tradisi Kemiren,” ujarnya.

Sampai saat ini wisatawan Banyuwangi sendiri terus meningkat. Pada 2016 wisatawan mancanegara mencapai 70 ribu, dan wisatwan domestik sejumlah 4 juta juta orang. “Target kami tahun 2017 ini wisman tembus 85 ribu, dan domestik 4, 5 juta orang. Saat bulan ini sudah 3,4 jta wisatawan yang melancong ke Banyuwangi,” pungkasnya. (detik.com)

loading...