Bupati Anas Turun Langsung Bujuk Warga Dirawat di RS

0
120

WALAU pulang cepat namun, Bupati Anas tidak langsung pulang ke rumah namun langsung meluncur ke perkampungan nelayan di daerah Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo. Ia menjenguk Ibu Sulastri (35), yang sedang sakit kanker  payudara akut.

Ditemani suaminya, Atwi (51), Sulastri yang tidak kuasa bergerak di tempat tidurnya untuk menyambut kedatangan rombongan Bupati Anas. Mengetahui kondisinya yang akut, Bupati Anas membujuk Sulastri untuk dirujuk ke rumah sakit. “Bu Sulastri menolak untuk dirujuk ke rumah sakit. Pihak keluarga tidak tega saat melihat Bu Sulastri kesakitan kalau  harus dipindah dari tempatnya. Sekujur tubuhnya merasa kesakitan saat digerakkan,” ungkap Anas usai membujuk Sulastri, Jumat(20/1).

Sebenarnya, sebelum kunjungan Bupati Anas ke rumahnya, Sulastri telah mendapatkan perawatan dari Pemkab Banyuwangi. Dia teridentifikasi  mengidap kanker payudara pada awal 2016. Saat  itu, pihak Puskesmas Kertosari yang bertanggung  jawab untuk melakukan pengecekan kesehatan di  Kelurahan Karangrejo, segera melakukan tindakan.

Semua proses administrasi Sulastri untuk mendapatkan jasa kesehatan gratis segera diurus. Kemudian, Sulastri mendapatkan pengobatan kemoterapi sebelum melakukan operasi. Sempat empat kali dari enam kali yang disarankan, Sulastri melakukan kemoterapi di salah  satu rumah sakit di Jember.

Setelah melakukan kemoterapi, Sulastri terlihat sehat dan dapat melakukan aktivitas sebagaimana  biasanya. Hingga tanpa disadari, dia hamil. Dalam proses kehamilannya, pihak Puskesmas Kertosari  aktif mendampinginya. Melalui posyandu, Sulastri rutin memeriksa kandungannya tersebut.

Ketika waktu melahirkan, oleh Puskesmas Kertosari, Sulastri dirujuk ke RSUD Blambangan. Dia melahirkan dengan kondisi  normal. Namun, bayinya yang diberi nama Muhammad Alfatih  Yandra itu, memiliki bobot min imal. “Hal ini, mungkin karena ibunya mengalami sakit, sehingga asupan gizi pada bayinya tidak  maksimal,” terang Kepala Dinas Kesehatan dr. Widji Lestariono yang mendampingi kunjungan  Bupati Anas ke rumah Sulastri,  pada Jumat (20/1) pagi.

Melihat kondisi yang demikian, Bupati Anas memerintahkan kepada Dinas Kesehatan Banyuwangi dan pihak Kecamatan Banyuwangi untuk melakukan pendampingan penuh. “Kita minta Pak Camat dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pendampingan intensif.

Selambatnya, tiap tiga hari sekali harus diperiksa kondisinya. Kebutuhan nutrisinya dan bantuan oksigen untuk pernafasan bisa dicukupi,” jelasnya. Kasus Sulastri, merupakan satu dari sekian kasus kesehatan yang dialami warga miskin yang mendapatkan perhatian dari Pemkab Banyuwangi.

Memasuki jilid dua masa jabatannya, Bupati Anas menggalakkan pelayanan terhadap warga secara cepat. Ia memiliki standard oprational system (SOP) tersendiri untuk memberi respon setiap aduan warga, terutama tentang warga miskin yang sakit.

“SOP-nya 4 jam  semua laporan harus segera ditangani,” ungkapnya. Laporan dari warga tersebut, bisa melalui aduan langsung, lewat  media sosial maupun sms center. Laporan itu, lantas didistribusikan ke instansi yang terkait. Seperti  pihak Kecamatan maupun puskesmas untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Saat ini, lanjut Anas, Pemkab Banyuwangi tidak hanya menunggu laporan dari warga. Ia bekerja sama dengan semua kepala desa se-Banyuwangi agar setiap saat melakukan pengecekan kepada warganya yang menderita sakit untuk  segera mendapatkan pelayanan.

“Kita tambah dana transfer ke desa sebesar Rp 10 miliar. Jadi tidak ada alasan lagi bagi pemerintah desa untuk tidak memberikan pelayanan kepada warganya yang miskin dan  sakit,” terangnya. Tak hanya itu, Pemkab Banyuwangi juga bersinergi dengan  Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Banyuwangi.

“Kadang pihak keluarga libur kerja karena menunggui yang sakit. Tentu, pemerintah sulit untuk memenuhi kebutuhan makan dan transportasi ini. Pertanggungjawaban administratifnya yang sulit. Maka, kami menggandeng Baznas untuk bisa meng-cover  bantuan yang demikian,” papar Anas. (radar)

Loading...