sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Siapa sangka, pembangunan jalan tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) ternyata diwarnai dengan banyak perubahan desain.
Desain perencanaan yang telah disusun sejak awal tidak sepenuhnya bisa diterapkan di lapangan, sehingga penyesuaian harus dilakukan berulang kali selama proses pengerjaan berlangsung.
Fakta tersebut disampaikan langsung melalui media sosial resmi pelaksana proyek, @pp_probowangi3.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa perubahan desain bukan hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan berkali-kali, demi menyesuaikan dengan kondisi lapangan yang dihadapi.
“Dalam pelaksanaannya, paket 3 ini mengalami banyak perubahan desain karena menyesuaikan kondisi lapangan,” tulis akun Instagram @pp_probowangi3 dalam keterangannya.
Kondisi medan yang dilalui proyek Tol Prosiwangi memang terbilang tidak biasa.
Pembangunan jalan tol ini tidak sepenuhnya dilakukan di medan datar sebagaimana tol pada umumnya.
Sebaliknya, sebagian besar trase melintasi kawasan perbukitan dengan kontur tanah yang tidak rata dan memiliki perbedaan elevasi cukup signifikan.
Situasi tersebut membuat desain teknis yang telah direncanakan sebelumnya harus terus dievaluasi.
Setiap perubahan kondisi geologi dan topografi di lapangan menuntut solusi konstruksi yang berbeda, mulai dari penyesuaian kemiringan jalan, struktur tanah, hingga metode pengerjaan.
Untuk Paket 3 sendiri, ruas pembangunan dimulai dari Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, hingga Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.
Di ruas inilah tantangan paling berat dihadapi oleh para pekerja proyek.
Tol Prosiwangi pada Paket 3 diketahui membelah kawasan perbukitan tepat di atas area PLTU Paiton hingga menuju Banyuglugur.
Trase yang melintasi bukit membuat proses konstruksi harus dilakukan dengan kehati-hatian ekstra, mengingat risiko longsor, kestabilan tanah, dan keselamatan pekerja.
Sumber: Instagram @pp_probowangi3
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Siapa sangka, pembangunan jalan tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) ternyata diwarnai dengan banyak perubahan desain.
Desain perencanaan yang telah disusun sejak awal tidak sepenuhnya bisa diterapkan di lapangan, sehingga penyesuaian harus dilakukan berulang kali selama proses pengerjaan berlangsung.
Fakta tersebut disampaikan langsung melalui media sosial resmi pelaksana proyek, @pp_probowangi3.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa perubahan desain bukan hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan berkali-kali, demi menyesuaikan dengan kondisi lapangan yang dihadapi.
“Dalam pelaksanaannya, paket 3 ini mengalami banyak perubahan desain karena menyesuaikan kondisi lapangan,” tulis akun Instagram @pp_probowangi3 dalam keterangannya.
Kondisi medan yang dilalui proyek Tol Prosiwangi memang terbilang tidak biasa.
Pembangunan jalan tol ini tidak sepenuhnya dilakukan di medan datar sebagaimana tol pada umumnya.
Sebaliknya, sebagian besar trase melintasi kawasan perbukitan dengan kontur tanah yang tidak rata dan memiliki perbedaan elevasi cukup signifikan.
Situasi tersebut membuat desain teknis yang telah direncanakan sebelumnya harus terus dievaluasi.
Setiap perubahan kondisi geologi dan topografi di lapangan menuntut solusi konstruksi yang berbeda, mulai dari penyesuaian kemiringan jalan, struktur tanah, hingga metode pengerjaan.
Untuk Paket 3 sendiri, ruas pembangunan dimulai dari Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, hingga Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.
Di ruas inilah tantangan paling berat dihadapi oleh para pekerja proyek.
Tol Prosiwangi pada Paket 3 diketahui membelah kawasan perbukitan tepat di atas area PLTU Paiton hingga menuju Banyuglugur.
Trase yang melintasi bukit membuat proses konstruksi harus dilakukan dengan kehati-hatian ekstra, mengingat risiko longsor, kestabilan tanah, dan keselamatan pekerja.
Sumber: Instagram @pp_probowangi3







