Dicerai Suami, Ditolak Anak

0
161
MERANA: Sukesi, 65, di rumah Endang Supiyati, di Dusun Pasar, Desa Sumber Arum, Kecamatan Songgon, kemarin.

BANYUWANGI– Kenyataan pahit dialami Sukesi, 65, warga asal Desa Undaan Wetan, Kecamatan Turen, Malang, ini. Betapa tidak, di usianya yang semakin senja, janda tersebut ditelantarkan anaknya. Kini, dia terpaksa menumpang di rumah orang lain di Dusun Pasar, Desa Sumber Arum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Ceritanya, puluhan tahun silam perempuan tersebut pernah dicerai suaminya. Kemudian, sang suami menikah lagi dengan perempuan lain. Padahal, kala itu pasangan tersebut baru saja mendapat momongan. ’’Waktu saya ditinggal suami. Anak saya baru berumur dua tahun,’’ ungkapnya. Selain ditinggal sendiri, putranya yang bernama Ngatiran itu juga dibawa sekalian.

Loading...

Alasannya, saat itu ekonomi sang suami lebih baik dan masa depan sang anak lebih men-janjikan. ‘’Anak saya dibawa ke Banyuwangi. Saya tetap di Malang ikut orang tua saya,’’ katanya. Meski sang anak dirawat mantan suaminya, namun Sukesi mengaku sering mengirim uang. Hal tersebut demi membantu mencukupi kebutuhan anaknya.

Namun, kemudian kiriman rutin itu diminta dihentikan oleh sang suami. ’’Saya gak boleh lagi ngirim. Katanya sudah cukup,’’ kenangnya. Singkat kata, kini anaknya sudah menjadi orang berpendidikan dan menjadi salah seorang kepala sekolah. Namun, keinginan untuk ikut anaknya tersebut di Desa Barurejo, Kecamatan Silir Agung, ditolak mentah-mentah oleh sang anak. ’’Saya ditolak itu tanggal 3 November 2011 lalu.

Saya gak boleh tinggal di sana. Saya diusir,’’ terangnya. Padahal, dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah di Malang pun sudah dijual. Orang tuanya juga sudah meninggal. Harapan satu-satunya adalah ikut putra tunggalnya itu. ’’Cuma satu harapan saya, mumpung masih ada umur, saya ingin bersanding dengan anak dan cucu-cucu saya,’’ ujarnya, dengan mata berkaca-kaca.

Setelah itu, dirinya pergi ke rumah salah satu saudara di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Tak berapa lama kemudian, ada riak-riak kecil terdengar di telinganya. ’’Saya menangis di sawah. Lalu ada orang tanya saya. Baru saya cerita dan akhirnya tinggal di ibu ini (Endang Supiyati, Red),’’ paparnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin. (radar)

Loading...