Dikenal Tekun Bekerja Membantu Orang Tua

0
463
BERKABUNG: Warga berada di depan rumah duka di Desa Gendohkemarin.
BERKABUNG: Warga berada di depan rumah duka di Desa Gendoh kemarin.

Jasad Imam Sujono, 13, akhirnya dipulangkan dari RS dr. Subandi, Jember, dan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Senin lalu (31/12). Bagaimana keseharian siswa kelas lima SD itu?


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

EKONOMI keluarga Imam Sujono ter masuk pas-pasan. Bayangkan, ke dua orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani. Upah yang didapat pasangan suami istri Kusni, 60, dan Jumaiyah, 40, hanya cukup un tuk memenuhi kebutuhan perut. Karena itu, pasutri tersebut harus berusaha keras untuk membiayai kebutuhan sekolah sang anak. Biaya pendidikan memang tidak murah, tapi keduanya pantang surut. Kali ini, tanggung jawab mereka hanya tinggal menuntaskan pendidikan Imam Sujono.

Sebab, putra pertama pasutri ter sebut, yakni Buwari, 25, sudah menikah. Buwari yang menikahi Jumaiyah, 24, itu mencari peruntungan di Bali. Saat Imam Sujono meng hilang, Buwari dan Jumaiyah sedang berada di Pulau Dewata. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan itu ternyata membuat Imam Sujono lebih mengerti apa yang harus dilakukan. Dalam beberapa kesempatan, bocah tersebut sering bekerja membantu orang tua. Kerja itu kerap dia lakukan sepulang sekolah.

Karena itu, bocah tersebut jarang terlihat bermain dengan teman sebayanya. Waktu luang yang biasa digunakan bermain justru disibukkan dengan bekerja. ‘’Jarang bermain dengan teman-temannya, karena harus membantu orang tua,” sebut Imam Wahyunika, seorang guru SMP yang juga tetangga korban, kemarin (1/1) Imam Wahyunika menerangkan, korban bisa dibilang jauh berbeda dengan bocah seusianya. Meski masih anak-anak, Imam Sujono mampu bekerja layaknya orang dewasa. ‘

Dia bisa nyingkal di sawah. Memang tekun anak itu,” kata alumnus MAN Genteng itu. Supaidi, 50, paman korban menuturkan, ke ponakannya itu sudah dimakamkan sesaat setelah sampai rumah duka. Tangis bercampur marah menyambut kedatangan jenazah. ‘’Tidak sedikit yang emosional saat jenazah keponakan saya datang. Setelah disalati, keponakan saya itu langsung dimakamkan,” terangnya. Supaidi tidak habis pikir mengapa keponakannya itu meninggal dengan kondisi mengenaskan.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last