dr. Gunadi, PhD, Lulusan Terbaik Kedokteran, S3 di Kobe University

0
2751

jadiBanyak orang Banyuwangi sukses di perantauan. Salah satunya adalah dr. Gunadi, Ph.D. Pria kelahiran Singotrunan itu kini menjadi orang penting di Fakultas Kedokteran (FK) UGM Jogjakarta. Selain sebagai dokter, penyandang program doktor di Kobe University Graduate School of Medicine Jepang itu juga aktif mengajar di Bagian Ilmu Bedah, Divis Bedah Anak, FK UGM/RS Dr. Sardjito, Jogjakarta.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PENAMPILANNYA kalem. Gaya bicaranya juga pelan. Sepintas tidak ter lihat bahwa pria itu menyandang predikat doktor. Dialah Gunadi, alum nus SMAN 1 Giri Banyuwangi 1998. Gunadi kini ter go long orang sukses di bidang ke dokteran. Sebagai warga Osing, dia telah me lambungkannama Banyuwangi di jagat  kedokteran In donesia.

Belum lama ini, pria berusia 33 tahun itu mengikuti kolaborasi pe ne litian Divisi Bedah Anak, Bagian Ilmu Bedah FK UGM/RS Dr. Sardjito, dengan Prof. Ara vinda Chakravarti, Ph.D dari McKusick, Natthans Institute of Ge netic Medicine, Johns Hopkins University School of Medicine, Bal timore, United States Saya di Johns Hopkins bukan menempuh program S3, tapi mengikuti penelitian post doktoral (pasca S3),’’ ujar Gunadi mengawali perbincangan dengan koran ini.

Penelitian dilakukan April-Juli 2013 dengan beasiswa Dikti-Fulbbright Senior Re search Program. Penelitiannya tentang ana lisis genetik molekuler Gena NTF3 dan NTRK3 pada pasien Hirschsprung di Indonesia. Penyakit Hirschsprung (Megakolon Kongenital) disebabkan ti dak  adanya ganglion Meisnerr dan Auer bach pada kolon. Ketiadaan ganglion tersebut akibat adanya gangguan saat perkembangan sistem saraf intestinal (enteric ner vous system) pada usia embrio 5-12 minggu.

Sampai saat ini, minimal ada 13 gena yang ter bukti terlibat dalam gangguan proses per kembangan di atas, di antaranya gena NTF3 dan NTRK3. ”Penyakit ini merupakan sa lah satu penyakit kongenital yang cukup tinggi insidensinya di Indonesia. Bahkan, di dunia insidensinya 1:5000 kelahiran hidup,” papar Gunadi. Siapa sejatinya Gunadi? Dia lahir dari keluarga pasa-pasan, tepatnya di Si ngo trunan, Banyuwangi. Ayahnya bernama Usnan dan sudah meninggal.

Ibunya, Hikmah, kini ma sih hidup dan tinggal di Singotrunan. Pen didikan dasar Gunadi ditempuh di SDN Sin gotrunan II tahun 1986-1992. Gunadi kecil melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Ba nyuwangi (1992-1995) dan SMAN 1 Giri (1995-1998). Di mata teman-temannya, Gunadi tergolong anak genius. Genius itu akhirnya mengantarkan Gu nadi kuliah di Fakultas Kedokteran UGM Jogjakarta (1998-2004). Selama men empuh program kedokteran, nilai aka demiknya sungguh luar biasa.

Indeks pres tasi kumulatif (IPK) S1 3,95 (lulusan ter baik se-UGM) saat wisuda sarjana se-UGM Agustus 2002. Pendidikan dokter 2002-2004, IPK-nya 3,88. Lag-lagi Gunadi mendapat predikat lu lusan terbaik se-UGM saat pelantikan dokter umum bulan Oktober 2004. Dia pun berhak men dapatkan penghargaan dari Dexa Me dica. Berkat kecerdasannya itu, tahun 2005-2009 Gunadi melanjutkan program S3 Medical Sciences (Molecular Genetic) di Kobe University Graduate School of Me dicine, Jepang.

”Program doktoral tersebut atas beasiswa Monbukagakusho (pe merintah Jepang),” cetusnya. Selain sebagai staf pengajar Bagian Ilmu Be dah, Divis Bedah Anak, FK UGM/RS Dr. Sar djito, Jogjakarta, Gunadi kini sedang me nempuh residen program pendidikan dok ter spesialis (PPDS) ilmu bedah anak di FK UGM. Sehari-hari, dia mengajar di FK UGM Jogjakarta. Istimewanya, profesi dok tor juga disandang sang sitri, dr. Risty Is kandar, Ph.D. Dari perkawinan dengan Risty, Gunadi dikarunia dua anak.

Mereka ada lah Keanu Ryu Gunadi, 2, dan Darell Ken Gunadi. ”Istri saya teman kuliah S1 di UGM. S3-nya adik kelas saya, selisih setahun karena mendapatkan beasiswa dari Monbukagakusho belakangan,” ungkap Gunadi. Apa tidak ingin balik ke Banyuwangi un tuk memajukan kota kelahirannya? De ngan diplomatis Gunadi mengaku ingin berbuat baik kepada siapa saja. ”Memajukan Banyuwangi tidak harus kembali ke Banyuwangi, Mas.

Insyaallah saya akan mem berikan manfaat kepada mahasiswa kedokteran, khususnya, dan masyarakat pada umumnya, baik sebagai dosen maupun dokter,’’ jelasnya. Meski terbilang orang sukses, Gunadi tetap tidak lupa teman-temannya. Baginya, te man adalah segala-galanya. Masa kecil di Banyuwangi sangat menyenangkan karena sejak kecil punya banyak teman.

Ke mana-mana selalu bareng teman-teman. Dia juga masih ingat, teman-teman sering ke rumah belajar bersama. Pagi berenang di sungai dan malam hari cari jangkrik di sawah. ”Kenangan masa kecil itu tak bisa terlupakan. Posisi saya saat ini tidak le pas dari peranan banyak orang. Selain orang tua, juga keluarga saya sekarang,” ucapnya. (radar)

Loading...

There were no listings found.

Kata kunci yang digunakan :