Harga Gabah Anjlok Petani Merugi

  • Bagikan

gabah-murahBANYUWANGI – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Banyuwangi mengeluhkan anjloknya harga gabah saat musim panen. Para petani mengaku rugi besar karena hasil panen tidak sesuai dengan biaya produksi. Ketua HKTI Banyuwangi, Sapuan mengatakan, harga gabah yang dijual petani di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). “Hampir setiap tahun harga gabah anjlok pada musim panen raya dan petani merugi,” ujarnya Safuan.

Saat ini harga gabah kering giling (GKG) berkisar Rp 3.400 hingga Rp 3.700 per kilogram. Padahal sebelumnya berkisar Rp 4.500 hingga Rp 4.900 per kilogram. Dia berharap, pemerintah menetapkan harga beli gabah petani lebih pantas. Kenaikan HPP bulan lalu , dinilai Sapuan kurang relevan karena tidak berimbang dengan ongkos produksi yang dikeluarkan petani.  HPP gabah maupun beras mengalami perubahan setelah terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) No.5 Tahun 2015 pada 17 Maret lalu.

Harga gabah kering panen (GKP) HPP sebesar Rp 3.700 di tingkat petani dan Rp 3.750 di penggilingan. Sedangkan pada peraturan sebelumnya, GKP tingkat petani hanya mencapai Rp 3.300 dan Rp 3.350 pada tingkat penggilingan. Untuk gabah kering giling (GKG) mencapai Rp 4.600 di penggilingan dan Rp 4.650 di tingkat Bulog. Sebelumnya harga hanya Rp 4.200 dan Rp 4.250 per kilogram. Sedangkan harga beras kualitas medium ditetapkan menjadi Rp 7300 per kilogram di gudang Bulog, tadinya hanya Rp 6.600.

Karena kebijakan itu, kata Safuan, sektor pertanian ditinggalkan kaum muda karena tidak menjanjikan kesejahteraan. Satu sisi pemerintah mendorong swasembada pangan. Mestinya pemerintah bisa memberikan subsidi hasil pertanian untuk memotivasi petani meningkatkan produksi. Safuan berharap Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak hanya melakukan penyerapan gabah pada tingkat pedagang atau unit penggilingan gabah dan beras (UPGB) saja.

Namun langsung pada petani. “Apalagi harga gabah petani di beberapa daerah mulai menurun,” ungkapnya. Saat ini menurut Safuan, pedagang terus menurunkan harga gabah pada tingkat petani. Sementara pedagang menjual gabah dengan harga tinggi pada Bulog. Petani sering dijadikan bahan permainan bagi para pedagang atau pabrik beras swasta, karena Bulog masih melakukan penyerapan beras dan gabah di tingkat UPGB. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: