Jalan Kaki 5 Km di Jalur Terjal Setiap Hari

0
186

jalankakiSDN 4 Sumberarum, Kecamatan Songgon, termasuk sekolah terpencil. Lokasinya di lereng Gunung Raung yang jauh dari perkotaan. Namun, semangat belajar siswa di sekolah itu layak diteladani. TERJAL, naik turun, dan berliku. Itu lah yang dirasakan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi ketika me ng unjungi SDN 4 Sumberarum. Sekolah itu terletak di Dusun Bejong, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Jalan menuju SD terpencil di lereng Gunung Raung itu cukup berat.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Menggunakan sepeda motor pun harus hati-hati. Jika tidak, pengendara bisa terperosok ke jurang di tepi jalan tanpa aspal yang penuh tanjakan tersebut. Meski begitu, nuansa alam yang sejuk membuat perjalanan terasa menyenangkan. Ya, jalan ke sekolah tersebut memang melewati hutan pinus danperkebunan tebu. Tentu saja, pesona alam yang demikian cukup menakjubkan. Rasa letih dan lelah pun hilang seketika Dari Dusun Pasar, jalan terjal menuju sekolah itu sekitar tiga kilometer (Km).

Jika meng gunakan sepeda motor, waktu yang di perlukan sekitar 15 menit. Setelah menempuh perjalanan yang cu  up menguras energi, akhirnya wartawan ko ran ini tiba di sekolah itu sekitar pukul 08.30 kemarin. Sekolah tersebut bersih dan sejuk. Nyaris tidak tampak sampah di ling kungan sekolah tersebut. Tidak ada guru yang nganggur. Tidak ada satu pun guru yang bersantai di ruang guru. Semua guru berada di ruang kelas. Saat itu memang belum waktu istirahat alias proses belajar sedang berlangsung.

Beberapa menit kemudian, seorang guru ke luar dari kelas. Usai berjabat tangan dengan koran ini, dia kembali masuk. “Maaf, se karang masih jam pelajaran. Mohon tunggu sebentar ya,” ujar Sarmin dengan ramah. Sekitar pukul 09.00, sejumlah guru masuk ruang guru. Ternyata mereka tidak semua masuk. Sebab, sebagian ada yang membersihkan taman dan memotong tanaman di sekitar sekolah tersebut.

Sekolah yang dikepalai Suwarjo itu saat ini hanya memiliki 68 siswa. Rinciannya, 38 siswa laki-laki dan 30 siswa perempuan. Jangan heran jika di setiap kelas rata-rata hanya ada 11 siswa. Guru yang mengajar di sekolah tersebut juga pas-pasan. Guru yang mengabdi ha nya enam. Semua guru itu merangkap se bagai wali murid. Hal itu yang membuat para guru di sekolah tersebut tidak bisa berleha-leha.

Loading...

Sang kasek tidak ada di sekolah kemarin. Menurut seorang guru, orang nomor satu di sekolah tersebut sedang mengikuti rapat. “Lagi rapat, Mas,” ungkap Baderi, guru agama kemarin. Selain mengajarkan materi pelajaran, para guru juga mengajarkan nilai-nilai kebersihan kepada semua siswa. Termasuk, da lam menjaga tanaman bunga di sekolah. ‘’Lihat boleh, tapi jangan sampai dipegang.

Karena daun-daun bisa rusak,” kata Sarmin, guru asal Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, itu. Dia menjelaskan, mayoritas siswanya tinggal di Dusun Lider, desa setempat. Jarak tempuh sekitar tiga Km. Bahkan, ada sejumlah siswa yang tercatat tinggal di Kampung Dani, Dusun Bejong, yang terbilang paling jauh, yakni lima Km. ‘’Mereka jalan kaki,” ujar Sarmin yang mengabdi di sekolah itu sejak tahun 1990. Meski berada di wilayah terpencil, tapi siswa-siswa sekolah tersebut patut dibanggakan.

Sebab, semangat belajar mere ka layak dijadikan contoh siswa sekolah lain. “Sebagian ada yang membawa sepeda on thel. Semangat anak-anak luar biasa,” kata Sarmin yang jarak rumahnya sekitar 23 Km dari sekolah itu. Biasanya, saat berangkat maupun pulang sekolah, siswa kelas satu menumpang mobil pikap. Siswa kelas satu pulang pukul 09.00 bersamaan dengan siswa TK yang lo kasinya tak jauh dari sekolah tersebut. ‘’Kelas I pulang, ganti kelas II masuk. Sebab, di sini kekurangan ruangan. Makanya di bagi pagi dan siang,” terang Sarmin.

 Sebetulnya ada satu lagi ruang yang bisa di gunakan siswa belajar. Namun, saat ini ruang tersebut digunakan sebagai ruang guru alias kantor. Maklum, sekolah tersebut belum memiliki ruang guru. ‘’Ruang belajar di pinjam,” kata Rian, guru yang lain. Mengenai prestasi, siswa-siswa sekolah tersebut juga tergolong bagus. Selama ini, tidak ada siswa yang gagal ujian nasional (unas). “Sepulang sekolah, anak-anak kelas VI mengikuti bimbingan.

Kemarin, anakanak juara dua lomba matematika dan juara empat lomba IPA tingkat kecamatan,” ujar Sarmin bangga. Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang di karuniai dua anak itu mengaku bahwa sekolah tersebut digadang-gadang menjadi perwakilan kecamatan dalam program green and clean yang menjadi program Pemkab Banyuwangi. Kondisi sekolah asri dan bersih menjadi salah satu penyebabnya. “Dibandingkan sekolah lain, sekolah sini memang layak,” tuturnya.

Sementara itu, hanya kasek dan dua guru yang tercatat sebagai PNS. Empat guru lain adalah guru tidak tetap (GTT). ‘’Saya mengajar di sini mulai tahun 2005,” sebut Agustin, guru GTT, kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Minimnya guru di sekolah tersebut di sadari betul oleh sang kasek. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan semangat guru dalam mengajar. ‘’Kalau di pikir-pikir memang kurang, tapi kami menyadari,” ungkap Suwarjo melalui sambungan telepon. (radar)

Loading...