Jelang Pemilu, Peredaran Upal Meningkat

0
424

BANYUWANGI – Peredaran uang palsu (upal) di Banyuwangi, tidak hanya terjadi di pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Di beberapa lokasi lainnya, juga jadi sasaran pengedaran upal meski nominalnya jauh lebih kecil daripada temuan di pelabuhan. Secara umum pada tahun 2013, tren pengedaran upal meningkat dibanding tahun 2012 lalu. Ada dua even politik yang memicu meningkatnya
peredaran upal, yakni even lima tahunan pemilu gubernur dan pemilu anggota legislatif.

Pemilu bupati dan pilkades juga jadi ajang penyebaran upal, tapi tidak sebesar pemilu gubernur dan pemilu legislatif,” jelas Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember, Dwi Suslamanto. Dua even politik itu, kata Dwi, sudah beberapa tahun sering dimanfaatkan untuk menyebarkan upal. Even politik Pemilu Gubernur Jatim sudah berlalu. Tahun 2014 mendatang, warga akan menghadapi pemilu legislatif. Menghadapi even pemilu legislatif, warga diminta waspada terhadap peredaran upal.

Setiap kali melakukan transaksi, warga diminta cermat dan mengecek keaslian uang rupiah. Pada eveneven politik peredaran upal meningkat tajam. Peningkatan peredaran upal pada even-even politik naik sekitar Rp 2 hingga Rp juta Untuk wilayah kerja BI Jember, ungkap Dwi, Jember dan Banyuwangi menjadi pilihan favorit para pengedar upal.

Saat peringat pertama peredaran upal ditempati Jember. Posisi peringkat kedua peredaran upal terbesar berada di Banyuwangi. Peredaran upal di Bondowoso dan Situbondo hampir sama. Karena peringkat penyebaran upal terbesar di Jember dan Banyuwangi, kata Dwi, maka target sosialisasi keaslian uang rupiah digenjot pada kedua daerah ini. (radar)