Kapal LCT Putri Sri Tanjung 1 ‘Karam’

0
101

Kapal-LCT-Putri-Sri-Tanjung-I-Karam-di-Pantai-Bulusan-Kalipuro

Enam Bulan Mangkrak, Dihantam Ombak

KALIPURO – Kapal landing craft tank (LCT) Putri Sri Tanjung I yang sudah lama mangkrak di dermaga beaching Pantai Bulusan, Kalipuro, karam Rabu malam kemarin (8/6). Beruntung, karamnya kapal yang dikelola PT. Pelayaran Banyuwangi Sejati (PBS) itu tidak menelan korban jiwa karena posisi kapal sedang tak berpenghuni.

Dugaan sementara, karamnya kapal yang menjadi aset Pemkab Banyuwangi itu akibat dihantam ombak besar. Infomasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, ombak menghantam buritan kapal sejak Rabu pagi (8/5). Karena hantaman ombak semakin kuat, air laut semakin banyak yang masuk ke dalam buritan.

Lantaran berat sebelah, pukul 20.30 kapal  itu karam dengan posisi buritan berada di dasar laut dan miring 45 derajat . Masuknya air laut ke dalam buritan diduga karena kapal mengalami kebocoran. Ditambah lagi saat kapal karam tidak ada satu pun anak buah kapal (ABK) yang stand by di atas kapal.

Dalam aturannya, meski kapal sedang tidak berlayar atau sedang off, wajib hukumnya perusahaan kapal menginstruksikan ABK untuk menjaga kapal. Direktur PT. PBS, Wahyudi, mengatakan kemungkinan kapal mengalami kebocoran sangat kecil.

Dia menyebutkan, LCT Sri Tanjung I karam disebabkan banyaknya air laut yang masuk ke dalam kapal. Sementara itu, ABK yang seharusnya stand by di atas kapal untuk mengawasi air laut saat kejadian sedang tidak ada di tempat.

”Output dan input air laut yang masuk ke dalam kapal tidak sebanding. Lebih banyak air laut yang masuk sehingga buritan kapal tenggelam. Perwira kapal yang seharusnya jaga juga tidak ada di tempat,” jelas Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi, Rabu malam (8/6) di Pantai Bulusan.

Loading...

Wahyudi membenarkan air yang masuk ke dalam kapal sudah mulai berlangsung sejak Rabu pagi. Pihaknya juga telah melakukan langkah-langkah dengan cara memberi sebuah pompa alkon (pelampung). Tetapi, apa boleh buat, karena air laut yang masuk ke buritan kapal semakin banyak, upaya yang dilakukan sirna. Buritan kapal akhirnya tenggelam juga.

”Kalau dugaan kebocoran saya kira tidak terlalu parah,” imbuh Wahyudi. Dia menambahkan, mengapa PT. PBS memilih tidak melakukan docking tahunan dan memilih memarkir kapal di Pantai Bulusan, itu lantaran terkendala hitung-hitungan ekonomi yang begitu besar.

Dia berdalih, biaya docking yang begitu besar ditakutkan tidak akan bisa tergantikan hingga LCT dilarang beroperasi.  Regulasi larangan LCT mengangkut penumpang sejak September 2016 nanti menjadi alasan. “Kita harus pikirkan urusan docking, karena biayanya tidak sedikit. Kapal ini statusnya milik Pemkab Banyuwangi dan kami (PT. PBS) hanya penyewa,” tambahnya.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas lll Ketapang, Ispriyanto, belum bisa memastikan apa yang menjadi penyebab tenggelamnya kapal LCT Putri Sri Tanjung I itu. Namun, dugaan sementara, pihak Syahbandar (KUPP) menyebutkan kapal itu tenggelam karena air rob masuk secara berkala terus-menerus ke dalam kapal.

Ditambah lagi, adanya pompa alkon yang disediakan PT. PBS untuk mengantisipasi kapal tenggelam kurang banyak. Ditanya apakah ada kebocoran atau bodi kapal patah, sehingga menyebabkan kapal tenggelam, Ispriyanto belum bisa memastikan. Hal itu baru bisa diketahui setelah kapal dievakuasi ke darat. Evakuasi kapal menjadi tanggung jawab manajemen kapal.

“Kapal harus dievakuasi. Kapal ini (LCT Putri Sri Tanjung I) sudah off sejak November 2015 lalu. Kapal ini memilih tidak melakukan docking, otomatis kami juga tidak bisa mengeluarkan surat izin berlayar,” tegasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tenggelamnya LCT Putri Sri Tanjung I kembali menarik minat warga untuk menyaksikan kapal tersebut. Warga mulai datang ke Pantai Bulusan sejak Rabu malam. Tenggelamnya kapal LCT Sri Tanjung I itu mengingatkan warga dengan musibah sebelumnya, yakni KMP Rafelia ll.

Sampai Kamis kemarin (9/6) warga yang datang ke lokasi kejadian masih banyak. Informasinya, kapal yang tenggelam itu akan diapungkan terlebih dahulu kemudian ditarik ke darat menggunakan alat berat. Sampai berita ini ditulis, posisi kapal masih sama saat pertama kali tenggelam. Proses evakuasi belum membuahkan hasil. (radar)

loading...