Kerap Dimintai Tolong Warga yang Kena Sihir

0
256
Ruslan naik becak bersama seblang Supani dalam ritual nyekar ke makam buyut Witri, Minggu lalu (10-9).

SUASANA jalan Raya Kuntulan, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Minggu sore lalu benar- benar ramai. Tidak seperti biasanya, hampir setiap sudut jalanan di kelurahan itu ramai penuh dengan warga yang hilir mudik.

Pintu masuk jalan di kampung itu juga dihias dengan gapura yang terbuat dari bambu. Tidak ketinggalan hiasan penjor dan poro bungkil seperti umbi-umbian dan hasil perkebunan serta pertanian turut dipajang di samping gapura setinggi empat meter yang melintang di tengah jalan tersebut.

Sejumlah pernak-pernik hiasan juga sudah lengkap terpasang mewarnai sepanjang jalan kampung di Kelurahan Bakungan. Tak berselang lama, suara gemuruh gamelan mulai terdengar lirih. Semakin mendekat, suara tampak hadrah kuntulan makin keras disertai suara gamelan menyerupai bale ganjur.

Jalanan kampung mulai padat dan seluruh kendaraan yang akan melintas dihentikan. Bahkan tidak diperkenankan melintasi di jalan kampung mengingat akan segera melintas pawai arak-arakan yang menjadi bagian awal tradisi ritual seblang.

Prosesi tradisi Seblang Bakungan dimulai dengan nyekar atau berziarah di pusara makam Buyut Witri, yang tak lain adalah leluhur Seblang Bakungan pada era tahun 1758-1832. Barisan terdepan pawai tersebut ada seorang lelaki dan perempuan yang diarak menaiki becak yang dihias menggunakan janur.

Lelaki yang naik becak itu mengenakan pakaian adat khas Oseng. Mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan ikat kepala (udheng). Perawakan tubuhnya terbilang mungil, tinggi badannya 155 cm, kulimya sudah keriput. Bahkan rambutnya juga sudah berubah.

Lelaki itu adalah Ruslan, sang pawang seblang. Sementara perempuan yang duduk di sebelah kiri Ruslan adalah Supani, tokoh seblang. Keduanya dinaikkan becak bukan tanpa sebab. Mereka berdua usianya sudah tak muda lagi.

Ditambah kondisi fisiknya juga tidak memungkinkan untuk berjalan kaki cukup jauh. Ruslan dan Supani yang naik becak didampingi para pengiring, yakni tokoh adat dan warga Kelurahan Bakungan yang hingga kini masih memegang teguh adat tradisi Seblang Bakungan.

Prosesi awal adat Seblang Bakungan dimulai dengan nyekar atau berziarah ke makam buyut Witri yang terletak di Lingkungan Gaplek, Kelurahan Bakungan. Tidak hanya ziarah dan tabur bunga, para peziarah yang kebanyakan adalah warga Bakungan itu juga melaksanakan selamatan dan makan bersama di lokasi makam usai memanjatkan doa.

Loading...

Selepas berziarah, para tokoh adat, panitia seblang, dan warga juga langsung melakukan ritual mengambil air di Sumber Penawar. Sumber air itu letaknya berada di lingkungan Watu Ulo, Kelurahan Bakungan.

Untuk sampai ke sumber air tersebut jaraknya juga lumayan jauh, namun masih bisa ditempuh dengan mengendarai mobil dan motor. Sesudah mengambil air di Sumber Penawar itu, tokoh sesepuh adat dan warga langung kembali ke kampung tempat dilaksanakannya seblang.

“Jadi, dalam setiap ritual seblang selalu begitu dan itu semua tidak pernah lepas dari peran sang pawang yakni Ruslan,” ujar Jumanto, 49, ketua adat seblang Bakungan. Ruslan merupakan pawang seblang. Kakek tersebut sudah menjadi pawang seblang sejak tahun 1967 silam.

Seblang Bakungan sempat mengalami masa transisi ketika tidak diadakannya kegiatan budaya sekitar tahun 1942. Namun, di tahun 1967 mulai dihidupkan kembali di era Lurah Ramelan dan masih terus berjalan hingga saat ini.

Bagi Ruslan, tugas sebagai pawang seblang merupakan sebuah amanah yang harus tetap dijaga dan dilestarikan terus menerus. Meski kondisi fisiknya sudah mulai berkurang karena dimakan usia, namun semangatnya seolah tak pernah pupus untuk terus menghidupkan tradisi warisan leluhur tersebut.

Tugas menjadi pawang seblang dimulai dari sore hari mengantar Seblang berziarah ke makam leluhur seblang yang telah meninggal dunia. Selanjutnya mengantar ke Sumber Penawar untuk mengambil air yang akan dijadikan prosesi ritual seblang.

“Jadi, pawang itu tugasnya ya sampai selesai. Mulai dari ziarah sampai nanti tengah malam menyadarkan kembali penari seblang setelah dirasuki roh para leluhur,” jelasnya. Banyak hal dan pengalaman yang dialami sejak menjadi pawang seblang tersebut.

Bapak dua anak ini bercerita, jika seblang di jaman dulu tujuh hari sebelum pelaksanaan, roh para leluhur sudah merasuki pemeran seblang yang merupakan keturunan seblang. Tak pelak, dia harus berulang kali menyadarkan sang pemeran seblang agar tidak terus-terusan dirasuki oleh leluhurnya.

Uniknya lagi, sejak menjadi pawang seblang itu, dia banyak didatangi tamu dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Banyuwangi melainkan juga dari luar kota seperti dari Surabaya, Jakarta, Bali, hingga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kedatangan para tamu itu juga beragam, ada yang minta syarat agar dagangannya laris, ada juga yang ingin segera mendapatkan jodoh, ada juga warga yang kena tenung (sihir) untuk bisa disembuhkan. “Semua pertolongan itu dari Gusti Allah, saya hanya lantaran saja,” katanya.

Kakek dua cucu itu juga mengaku kerap diberi hadiah oleh para leluhur. Hadiah itu berupa pusaka seperti keris, tombak, cincin akik, serta berbagai jenis barang-barang lainnya. Namun, barang-barang pusaka itu justru diberikan kepada warga, tidak disimpan dan dimilikinya sendiri.

Dalam prosesi ritual Seblang Bakungan itu juga ada hal unik. Salah satunya warga yang berebut air sumber. Tidak sedikit warga yang menunggu prosesi mengambil air di Sumber Penawar. Karena bagi warga, sumber air Penawar tersebut keluar secara alami. Jika ada kegiatan seblang, sumber tersebut bagi yang meyakini dapat memberikan kesehatan, menyembuhkan penyakit, dan berbagai hal lainnya.

“Saya setiap tahun selalu bawa galon. Walaupun tanpa dimasak air sumber penawar tidak menyebabkan pilek, justru menyehatkan,” ujar Suriyatik, 45, salah seorang warga Lingkungan Watu Ulo, Kelurahan Bakungan. (radar)

loading...