Korban Banjir Muncar Alami Trauma

0
937

“Saya menumpang di rumah tetangga. Sampai sekarang kalau malam tidak bisa tidur, takut banjir lagi,” ungkapnya. Saat banjir terjadi, rumah milik Suwarti yang berdinding anyaman bambu (gedheg) diterjang banjir dengan ketinggian air satu meter lebih. Bahkan, dapur rumahnya yang berada di dekat Sungai Wagud hanyut terbawa derasnya banjir.

“Saya tidak punya apa-apa lagi. Uang  santunan Rp 350 ribu di dompet hanyut dibawa banjir,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Di rumah Suwarti itu hampir tidak ada barang yang bisa diselamatkan.  Seluruh peralatan dapur, seperti kompor,  wajan, dandang, piring, sendok, dan sejumlah pakaian, ludes terbawa banjir.

“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi,”  ungkap nenek yang tinggal dengan satu  cucunya itu.  Hal senada juga diungkapkan Kasianto, 38. Warga Dusun Kedungringin, RT XI, RW 3, Desa Kedungringin, yang rumahnya terbuat dari gedheg juga ambrol dan hanyut. Beruntung, rangka rumahnya  masih selamat.

“Rumah tinggal rangka saja. Semua perabot dapur habis  dibawa banjir. Pakaian tinggal beberapa setel,” jelas suami Setiani, 40 itu. Meski banyak rumah yang rusak berat hingga hanyut, hingga kemarin  (9/6) warga mengaku belum didata mengenai kerusakan tersebut.

“Belum ada yang datang untuk mendata rumah yang rusak,” terang Sutini, 32, warga Dusun/Desa Kedungringin.  Padahal, jelas dia, akibat bencana  banjir itu banyak rumah di sekitar rumahnya rusak berat hingga hanyut  terbawa banjir.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | Next → | Last

Baca :
BMKG Banyuwangi Keluarkan Peringatan Dini Ombak Laut Selatan