Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Kritisi Kondisi Pertigaan Sukowidi

GAYENG: Dari kanan Ketua BPC Gapensi Syaiful Bahri, Pemred RaBa Irwan Suryanto, Ketua Komisi IV Zainal Arifin, Direktur RSUD Blambangan dr. Taufiq di Aula Kantor BPC Gapensi Banyuwangi kemarin.

BANYUWANGI – Rekayasa lalu-lintas di pertigaan Sukowidi menjadi sorotan tajam peserta diskusi “Forum Kemisan” Radar Banyuwangi di Kantor BPC Gapensi kemarin (29/3). Arus lalu-lintas di lampu merah Sukowidi itu perlu direkayasa khusus agar kecelakaan yang memakan korban jiwa tak terulang lagi.

Di pertigaan Sukowidi dinilai sering terjadi kecelakaan yang menyebabkan jatuhnya korban. Beberapa tahun terakhir, banyak korban jiwa dalam accident di lokasi itu. Peserta diskusi mengusulkan agar ada pelebaran jalan di lokasi itu.

Jika ada pelebaran jalan, maka arus kendaraan yang dari arah barat akan mudah mencari haluan saat hendak belok ke utara. Selama ini, kecelakaan dipicu kendaraan yang meluncur dari barat. Kendaraan besar yang meluncur dari berat memang sulit mencari haluan saat akan belok ke utara.

Akibatnya, kendaraan dapat menyenggol kendaraan dari utara yang berhenti di traffic light. “Solusinya, pemerintah daerah harus membebaskan lahan untuk pelebaran jalan pada sekitar traffic light itu,” ungkap Syaiful Bahri, ketua BPC Gepensi Banyuwangi. Untuk solusi jangka pendek, pemkab diminta memasang beberapa markah kejut di ruas jalan dari arah barat. Itu dalam rangka mengurangi kecepatan kendaraan yang meluncur dari arah barat.

“Mulai rel KA, jalannya kan menurun. Untuk itu, diperlukan markah kejut beberapa meter sebelum traffic light,” ujar Mandiri Ratu Warang Agung, ketua DPD PKS Banyuwangi. Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) memberikan perhatian serius atas accident yang sering terjadi di Sukowidi.

Dishubkominfo akan melakukan survei untuk mencari solusi atas kecelakaan yang sering terjadi. Selain kecelakaan di Sukowidi, pembangunan RSUD Blambangan juga menjadi sorotan peserta diskusi bertema “Mengoptimalkan Perencanaan Pembangunan Banyuwangi” itu. RSUD Blambangan dinilai sudah saatnya dirombak agar menjadi rumah sakit yang membanggakan.

Selama ini, RSUD Blambangan tidak dapat dibanggakan sebagai rumah sakit pemerintah. Sejatinya, RSUD Blambangan menjadi rujukan rumah sakit swasta. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak hanya itu, rumah sakit tersebut dinilai tidak memiliki perencanaan yang baik. Akibatnya, RSUD Blambangan tidak memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yang memadai.

Direktur RSUD Blambangan, dr. Taufiq, bertekad melakukan perubahan besar-besaran dirumah sakit yang dia pimpin itu. Pihaknya sedang mempersiapkan beberapa program untuk mereformasi pelayanan. Oleh karena itu, Taufiq mengundang kritik dan saran demi perbaikan pelayanan rumah sakit tersebut. Ke depan, RSUD Blambangan harus menjadi rumah sakit yang membanggakan bagi masyarakat Banyuwangi.

“Mulai April, kita akan membenahi pelayanan,” katanya. Persoalan ketiga yang menjadi sorotan peserta diskusi adalah kasus kebakaran Toko Sahabat. Kebakaran dahsyat yang malahap Toko Sahabat mestinya bisa diantisipasi hingga sampai ludes jika sarana pemadam memadai.

Namun, karena sarana tidak memadai, kebakaran dahsyat tidak bisa dihindari. Saat kebakaran, hydrant di sekitar lokasi tidak ada yang berfungsi. Dampaknya, mobil pemadam kebakaran (damkar) kesulitan mendapat suplai air. “Hydrant yang ada masih peninggalan Belanda,” ungkap Syaiful Bahri. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE