Layangan Ngejreng Aneka Rupa

0
968
WARNA-WARNI: Seseorang menjajakan layang-layang di jalan raya Temuguruh, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, kemarin (10/4).

GENTENG – Kreativitas masyarakat Banyuwangi patut diacungi jempol. Demi  mengais rupiah, mereka mengkreasi berbagai macam kerajinan. Salah satunya terlihat di jalan raya Temuguruh, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, ini.  Di lokasi tersebut, tampak puluhan layang-layang dengan bentuk unik dan warna-warna ngejreng.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Benda yang oleh masyarakat Bumi Blambangan lebih dikenal dengan istilah layangan, itu didesain sedemikian rupa hingga menyerupai berbagai macam hewan. Mulai kucing, ikan hiu, hingga ubur-ubur. Bentuknya yang unik dan warna yang “menyilaukan mata” mampu menyedot perhatian para pengguna jalan yang menghubungkan Kecamatan Singojuruh dan Genteng tersebut.

Bahkan, tidak sedikit pengguna jalan yang menepi, lantas membeli layangan dua dimensi (2D) tersebut. Muhamad Kliwon, 34, si penjual layang-layang mengungkapkan, konsumen yang membeli barang dagangannya tidak hanya dari kalangan anak-anak. Sebaliknya, mereka yang sudah dewasa juga menggemari layangan berbahan kain parasit tersebut.

“Dalam sehari rata-rata saya mampu menjual 15 unit layangan,” ujarnya kemarin (10/4). Menurut Kliwon, layangan berbentuk kucing dia pasarkan seharga Rp 20 ribu per unit. Sedangkan untuk layang-layang berbentuk ikan paus dan ubur-ubur dilego ke tangan konsumen seharga Rp 30 ribu dan Rp 35 ribu per unit.

“Dalam waktu dekat, saya akan menjual layangan dengan bentuk lain yang lebih
menarik. Di antaranya, berbentuk kambing, macan, dan naga. Saat ini (kemarin) proses pengerjaannya masih berlangsung,” tuturnya. Selain di Desa Genteng Wetan, penjual layangan sejenis juga dapat dijumpai di tepi jalan raya Genteng, tepatnya sekitar Rumah Sakit (RS) Al-Huda, Kecamatan Gambiran.

“Iya, yang jualan di lokasi tersebut adalah kakak saya. Kami sengaja berjualan di dua lokasi berbeda untuk memudahkan pembeli. Jadi, masyarakat yang membeli layangan kepada saya adalah mereka yang berasal dari kawasan utara Banyuwangi. Sedangkan yang beli di kakak saya, rata-rata berasal dari Banyuwangi selatan,” pungkas Kliwon. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :