MEH + A3 = 2014, Persewangi dan Wedus Gembel

0
301

SESUAI  dengan  impen, akhirnya Michael Edy Hariyanto (MEH) mengungguli  incumbent H. Adil Ahmadiono dalam Muscab II DPC Partai Demokrat Banyuwangi minggu lalu. Tak henti-hentinya sorak “horreee” berumandang saat papan skor menunjuk ngka 19:8 untuk keunggulan Michael. Sesungguhnya,  sampeyan dan saya etidaknya mafhum kalau kemenangan MEH sebagai tuah dedikasi an loyalitasnya di banyak organisasi elama ini.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Selain tentunya juga ebagai pengusaha top yang mumpuni. Raihan ini bukanlah titik kulminasi. Ini hanyalah sebuah efek kumulasi pengantar pagi di ajang kopi emokrasi. Nun jauh di sana justru ada esuatu lain yang menanti? Jika ada seseorang di luar sana yang masih ragu kalau-kalau saja partai Demokrat adalah sebuah wadah segala esuatu bisa terjadi, atau yang masih bertanya-tanya apakah mimpi para endiri partai ini masih dan akan eksis i masa mendatang, bagi yang masih mempertanyakan sebuah sumber kekuatan demokrasi, ya… MEH akan menjawabnya kini.

Bersama partai Demokrat dia akan berlaga di 2014 nanti. Akankah menjadi superior di Banyuwangi? Ataukah  njlekethek ermarginalkan imbas ulah politikus usuk di negeri ini. Bagaimana setrategi MEH mencuri-curi inovasi dan ensasi pencitraan diri sejati? Akankah MEH senantiasa berteman dengan enam orang pelayan seksi yang jujur sebagaimana pesanan Rudyad Kipling (1865-1936):  I keep six honest serving men (they taught me all I knew). Their name are: what and Why and When; and How, and Where and Who.

Pelabuhan rakyat selanjutnya adalah planning, organizing, commanding, coordinating and controlling. Bagi  sampeyan  yang pernah di jongkrokne hingga kejongor ndlesep bak MEH saat mati-matian mbelani Persewangi zaman dulu. Sosok MEH memang benar mati-matian. Ndilalah, justru Persewangi kini yang matinya mati beneran. Persewangi kini justru modal-madul. Habis sudah riwayat hidup Persewangi di pentas nasional. Nyungsep berkalang tanah.

Dulunya MEH identik Persewangi, dan Persewangi adalah MEH. Figurnya malati. Imbasnya kini Persewangi dicueki bupati, disatroni pengusaha berdasi, di-emohi  pemainnya sendiri, di jauhi Larosmania sejati hingga di-nyek kanan-kiri. Hidup segan mati tak mau. Ngemisnya Persewangi menjadi pergunjingan mancanegara. Apakah Larosmania akan melakukan upaya  class action terhadap pengurusnya? Inilah sesungguhnya yang dinanti para bola mania Banyuwangi sebagai bentuk eksepsi atas nama harga diri.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last