Muncul Gejala Laporan Asal Bapak Senang

0
132

Bupati Anas Peringatkan PNS

BANYUWANGI – Gejala laporan asal bapak senang (ABS) di lingkungan Pemkab Banyuwangi tampak sudah mulai muncul. Hal itu tergambar dari peringatan yang dikeluarkan Bupati Abdullah Azwar Anas kepada seluruh pegawai negeri sipil (PNS) untuk tidak membuat laporan bersifat asal bapak senang (ABS).

Peringatan itu disampaikan Anas saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kantor Dinas Perikanan dan Pangan (DPP) serta Dinas Pertanian (Disperta) Banyuwangi kemarin (18/1). Dia menegaskan semua SKPD harus menyampaikan laporan sesuai fakta di lapangan, bahkan jika  terjadi penurunan tren kinerja sekalipun.

“Selama ini data yang diberikan kepimpinan nyaris selalu naik. Trennya naik sepuluh persen per tahun. Misalnya produksi pertanian, dan lain-lain. Tetapi fakta di lapangan, terjadi penurunan produksi,  misalnya karena faktor cuaca, dan lain- lain. Ke depan hal seperti ini tidak boleh  lagi terjadi,” tegas Anas mengingatkan.

Menurut Anas, justru dengan pendataan yang baik, termasuk jika terjadi kendala yang berpotensi menurunkan kualitas dan kuantitas produksi, pemkab bisa dengan  cepat mencari solusi. “Laporkan apa adanya. Jangan sampai data di dinas berbeda dengan kondisi di lapangan,” cetusnya.

Sementara itu, saat melakukan rapat dengan jajaran DPP, Anas menyatakan tahun ini akan mendorong pengembangan budidaya perikanan air tawar. Sektor yang satu ini dinilai sangat prospektif di tengah kondisi perikanan tangkap, khususnya di  Selat Bali, yang telah overishing.

Selain mengembangkan budidaya perikanan air tawar, pemkab juga bakal terus mendorong diversiikasi usaha nelayan.  Dengan melakukan diversii kasi usaha, para nelayan tidak hanya menggantungkan pendapatan dari hasil menangkap ikan dilaut, tetapi juga mendapat penghasilan  lain, misalnya dengan memanfaatkan  kawasan pantai menjadi objek wisata.

Anas mengatakan, Banyuwangi tidak bisa terus-menerus mengandalkan perikanan tangkap. Sebab, mengacu kondisi yang ada saat ini,  kawasan Selat Bali sudah overi shing. “Banyuwangi punya potensi sumber daya air yang sangat melimpah. Ini harus dimanfaatkan.  Salah satunya untuk budi daya  ikan air tawar,” ujarnya.

Dikatakan, beberapa kecamatan di Bumi Blambangan,   misalnya Kecamatan Glenmore,  Kalibaru, Sempu, Songgon, serta Glagah dan Licin, sangat potensial dikembangkan menjadi  sentra perikanan budi daya. “Program sepuluh ribu kolam ikan kita tingkatkan menjadi  seratus ribu kolam. Program  ini akan menjadi sumber ketahanan pangan keluarga sekaligus  juga sumber penghasilan bagi  keluarga,” cetusnya.

Program budi daya air tawar bisa bersinergi dengan program di Dinas PU Pengairan. Apalagi, dengan kolam-kolam milik warga juga berfungsi menahan air agar tidak langsung terbuang ke laut. Karena itu, kedua instansi terkait tersebut harus melakukan koordinasi program.

Kalau perlu dana desa kita dorong  sebagian untuk membeli bibit ikan. Tidak perlu kolam yang  besar, cukup dengan kolam sederhana sudah bisa untuk memelihara ikan,” cetusnya. Anas juga mendorong 100 ribu kolam melalui program mina  tani, yakni usaha budidaya perikanan yang dilakukan bersamaan dengan pertanian.

Mina tani memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami tanaman pangan sebagai kolam untuk budi daya ikan air tawar. Misalnya saja mina padi, dan mina naga. “Kita juga mendorong mina tani untuk memanfaatkan hamparan lahan   pertanian yang luas di Banyuwangi,” kata dia.

Sekadar diketahui, sampai  akhir tahun 2016 gerakan 10 ribu kolam ikan telah menghasilkan  kolam sebanyak 13.215 kolam  yang tersebar se Banyuwangi. Menghasilkan produksi ikan tawar sebanyak 3700 ton dengan komoditi ikan tombro, nila,  gurame, dan lele.

Sementara itu, meski bakal menggenjot sektor perikanan air tawar, Anas mengaku pemkab bakal terus memperhatikan sektor perikanan tangkap. Bantuan untuk kelompok nelayan diarahkan lebih merata, tidak hanya ditujukan untuk satu atau  dua kelompok.

Selain itu, Anas mendorong  agar ada diversii kasi produktivitas bagi para nelayan. Laut  tidak hanya dimanfaatkan untuk menangkap ikan tapi juga memberikan nilai ekonomis lain  bagi nelayan, misalnya lewat  pariwisata. “Ini sebagai salah  satu cara mengatasi overfishing di Selat Bali dan memberi  penghasilan baru bagi nelayan,  kuncinya adalah kualitas lingkungan yang terjaga. Nelayan  harus didorong untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” tuturnya. (radar)

Loading...