Nelayan Talango tak Bisa Pulang

0
186

neBANYUWANGI – Sejumlah nelayan asal Pulau Talango, Kabupaten Sumenep, tak bisa pulang ke kampung halamannya. Perahu mereka tertahan di kawasan pelabuhan rakyat di Pantai Boom, Kelurahan Mandar, Kecamatan Banyuwangi hingga kemarin (21/4). Para nelayan yang sudah sebulan berada di wilayah Bumi Blambangan itu tidak bisa pulang kampung karena kekurangan bahan bakar minyak (BBM) solar untuk mesin perahunya. “Tidak ada solar untuk pulang ke Madura,” ujar salah satu nelayan asal Pulau Talango, David, 20.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

David yang datang ke Banyuwangi bersama Rusdi, ayah kandungnya, sebenarnya sudah ingin pulang ke Talango. Hanya saja, niatnya belum bisa terwujud, karena pembelian solar yang dibatasi di Banyuwangi. “Pembelian solar dibatasi lima liter,” terangnya Solar sebanyak lima liter itu, jelas dia, tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan pelayaran hingga ke kampung halamannya. Sebab, untuk pulang ke kepulauan di Sumenep itu dibutuhkan solar minimal 40 liter. “Solar lima liter tidak cukup untuk pulang ke Madura,” katanya.

Menurut David, solar yang hanya dijatah lima liter itu tetap dimanfaatkan untuk bekerja. Biasanya, dengan BBM yang terbatas itu dipakai untuk mencari cumi-cumi di sekitar Selat Bali. “Sekarang ini mencari cumi-cumi, mau pulang juga tidak bisa,” sebutnya. Pernyataan senada disampaikan Asma, 55, yang juga nelayan asal Talango, Kabupaten Sumenep. Dia menyebut, perjalanan pulang menuju ke kampung halamannya itu dibutuhkan waktu sehari semalam. “Solar yang dibutuhkan untuk perjalanan itu 40 liter,” cetusnya.

Asma mengaku sejumlah nelayan asal Pulau Talango yang mencari ikan di sekitar perairan di Banyuwangi, tidak bisa kembali karena kekurangan solar. “Saya itubeli solar di SPBU dilayani maksimal hanya 10 liter, tidak boleh lebih dari itu,” katanya. Ditanya jumlah nelayan asal Madura yang berada di Banyuwangi, Asma dan David mengaku tidak tahu pasti. Tapi, perahu dan kapal yang kini bersandar di sekitar pelabuhan rakyat di dermaga Pantai Boom, kebanyakan dari Madura dan beberapa kepulauan di sekitarnya. “Semua tidak bisa pulang, solarnya tidak ada,” katanya.(radar)

Loading...