Orang Afrika Belajar Bikin Bakso Ikan di BPPP Bangsring

0
124

Peserta-pelatihan-memasukkan-adonan-yang-terbuat-dari-ikan-ke-kulit-samosa-di-ruang-pelatihan-BPPP-Bangsring-kemarin.

WONGSOREJO – Para peserta International Training on Sustainable Marine Fishery Product Development for African Countries belajar membuat aneka menu dari olahan ikan pada pelatihan hari kedua kemarin (25/5). Mereka  diajari membuat menu samosa,  siomay seafood, dan bakso, di Balai Pendidikan Pelatihan Perikanan (BPPP).

Seluruhnya menggunakan bahan utama ikan. Pelatihan diawali dengan penyiapan peralatan masak dan bahan menu makanan. Ikan tengiri, cumi-cumi, dan udang merupakan jenis  ikan yang dipilih untuk ketiga bahan   makanan tersebut. Kemudian, mereka memotong ikan dengan cara mengiris dan menggiling daging ikan.

Loading...

Kepala BPPP Bangsring , I Wayan Surya, melalui Fungsional Widyaiswara  (pengajar), Anak Agung Gede Putra, mengatakan peserta tidak hanya diajari mengiris daging ikan. Mereka juga diajari mencuci  ikan yang baik hingga pembuatan  bumbu dan pencampurannya.   

“Mereka juga yang mencetak samosa dan menggorengnya,” kata Anak Agung. Peserta tampak antusias melakukan  kegiatan pengolahan ikan  di ruang pengolahan ikan BPPP  tersebut. Menu yang akan mereka praktikkan hari itu, menurut   Agung, merupakan pilihan mereka sendiri.

Hasilnya akan mereka cicipi bersama sebagai bukti  bahwa menu olahan mereka bisa disajikan. Salah satu peserta, Clementain Cheinamayo Zvavehera, 36, asal  Zimbabwe, mengaku sangat menikmati kegiatan mengolah ikan di ruang pengolahan ikan  itu. Secara pribadi dia memang  menyukai kegiatan masak di dapur.

“Saya sering membuat menu yang sama, hanya saja menggunakan daging sapi, kambing, atau babi,” akunya. Dia mengaku tidak ada kesulitan berarti dalam mengolah menu-menu tersebut. Bahkan, bumbu-bumbunya tidak asing baginya karena mudah ditemukan di negara   asalnya.

Hanya saja, lanjut wanita yang bekerja di bagian pemerintahan setara kecamatan di Zimbabwe itu, membutuhkan ketelatenan untuk bisa menampilkan  bentuk makanan yang menarik.  Pada hari pertama pelatihan para peserta dari Afrika tersebut membuat alat tangkap ikan tradisional   yang bernama bubu.

Kepala BPPP I Wayan Surya mengatakan, bubu dipilih sebagai alternatif alat tangkap ikan karena  memiliki sifat ramah lingkungan dan fleksibel di segala perairan.  Pelatihan internasional itu dibuka   pada hari Rabu lalu. Peserta dari negara-negara Afrika berjumlah  19 orang.

Masing-masing dua orang perwakilan dari Kenya, Madagaskar, Mozambik, Namibia, Sudan, dan Zim babwe. Mereka berasal dari unsur pe merintah, pengusaha, dan pelaku utama bidang perikanan. Dari Indonesia berjumlah  tujuh orang. Mereka diberi materi pelatihan tentang kebijakan  pengembangan sektor kelautan  dan perikanan.(radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :