Pancasila Bukan Ilmu tapi Norma

0
316
Loading...

Kini semua sila dalam Pancasila seolah sudah tidak dijadikan dasar atau landasan dalam menentukan langkah dalam berbangsa dan bernegara. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan sila pertama dalam Pancasila mengandung beberapa butir yang salah satunya berbunyi “saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya” . Jika butir ini hanya dilihat sebagai ilmu, maka hanya akan terekam dalam otak kita.

Namun, jika butir tersebut dijadikan sebagai norma, maka manusia akan semakin tenang dan hidup saling menghormati dalam perbedaan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab merupakan sila kedua Pancasila dan berlambang rantai. Berani membela kebenaran dan keadilan serta gemar melakukan kegiatan kemanusiaan adalah dua dari delapan butir yang ada dalam sila kedua tersebut. Hukum di negara kita seolah masih berpihak pada mereka yang memiliki uang. Siapa yang beruang, itulah yang menang.

Jika kita menerapkan Pancasila sebagai ilmu, seperti itulah contoh kasusnya. Kegiatan kemanusiaan, seperti pemberian bantuan kepada siswa tidak mampu, adalah contoh penga- malan Pancasila sebagai norma bukan sebagai ilmu. Persatuan Indonesia sebagai sila ketiga Pancasila mengajarkan kepada kita agar menempatkan kesatuan, persatuan, kepentin- gan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Kedua hal tersebut bisa terlaksana jika kita benar-benar menempatkan Pancasila sebagai aturan dalam hidup bernegara dan tidak sekadar sebagai ilmu yang hanya dihafalkan.

keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan mengajarkan beberapa hal kepada kita, antara lain tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan demi kepentingan bersama, dan musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan. Nilai-nilai tersebut masih sangat relevan digunakan dalam kehidupan bermasyarakat sekarang ini. Sila kelima dengan lambang padi dan kapas berbunyi, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Baca :
Valencia dan Hikam Terpilih sebagai Duta Daerah Banyuwangi 2020

Sila inilah yang seolah sulit diterima masyarakat kelas ekonomi rendah, seperti buruh, tukang becak, dan petani. Sulit diterima bukan dalam arti nilai silanya kurang baik, tapi implementasi nilai- nilai sila itu yang dirasa belum terlaksana sama sekali. Banyaknya pengangguran dan anak putus sekolah karena masalah biaya pendidikan adalah cermin betapa nilai keadilan belum dirasakan seluruh rakyat Indonesia.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | Next → | Last