Polisi akan Panggil Kiai Kembar

0
612

polisiTerkait Keberadaan Puluhan Imigran Gelap


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI – Aparat Polres Banyuwangi masih terus mengembangkan kasus puluhan imigran gelap etnis Rohingnya asal Myanmar hingga kemarin (14/4). Dalam waktu dekat, petugas akan memintai keterangan Kiai Kembar pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Qodiri dari Dusun Seneposari, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung. Sebab, puluhan imigran ilegal tersebut pernah menetap di ponpes tersebut selama beberapa hari.

Sementara itu, empat warga yang diduga sebagai cukong dan ditangkap saat menginap di salah satu hotel di Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, masih terus menjalani pemeriksaan hingga kemarin (14/4). “Semua (empat orang) masih ada di polres, dan masih diperiksa,” cetus Kasatreskrim Polres Banyuwangi AKP Bagus Ikhwan Christian. Keempat warga itu Iryanto Yahya Saka, 51, asal Desa Bani Boi, Kecamatan Kelapa Lima, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT); Hevy Aloe, 32, Pengalasan 6, Denpasar, Bali; Nur Hati Syafi i, 38, Perum Padang Lestari, Krobogan, Kuta, Bali; dan Maya Malinda, 34, asal Kelurahan Sungai Bambu, Jakarta Utara. “Yang kita tetapkan sebagai tersangka baru satu,” jelasnya.

Kasatreskrim Bagus menyebut, dari empat warga tersebut, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka adalah Iryanto Yahya Saka. Lelaki itu diduga sebagai otak pelarian puluhan imigran ilegal itu hingga sampai ke Banyuwangi. “Kasus ini akan kita proses di Banyuwangi,” cetusnya. Ditanya kemungkinan akan ada tersangka lain, Kasatreskrim Bagus menyebut, kemungkinan itu bisa saja terjadi Yang pasti, penyidik masih akan melanjutkan pemeriksaan pada sejumlah saksi. “Kami masih memfokuskan pemeriksaan pada sejumlah saksi,” ungkapnya.

Menurut AKP Bagus, KH Khoirudin dan KH Nurudin yang dikenal sebagai Kiai Kembar, rencananya juga akan diundang untuk memberikan keterangan. Sebab, pengasuh ponpes itu telah menampung puluhan imigran asal Myanmar tersebut. “Kiai Kembar termasuk nama yang akan segera kita panggil,” tegasnya. Pemanggilan Kiai Kembar ini, sebut Bagus, terkait pengakuan Iryanto yang sudah mengenal pada Kiai Kembar sejak sebulan lalu. Kepada polisi, Iryanto juga menyebut yang menyerahkan para imigran gelap ini pada Kiai Kembar tersebut.

“Untuk jadwal pemanggilan belum ada, tapi akan kita panggil,” ujarnya. Sementara itu, sebanyak 56 orang imigran gelap yang sempat bersembunyi hingga lima hari di Pondok Pesantren Nahdlatul Qodiri, Dusun Seneposari, Desa Barurejo, hingga kemarin masih ditampung di Gedung Kwarcab Pramuka di Jalan Wijaya Kusuma, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Selama berada di Gedung Pramuka, polisi terus mengawasi secara ketat aktivitas para imigran itu. Sejumlah polisi terlihat berjaga di bagian depan.

Sebagian petugas juga ada yang melakukan pengamanan di belakang dan samping gedung. “Pengamanan selama 24 jam penuh,” cetus Kapolsek Blambangan AKP Ketut Redana di Gedung Pramuka kemarin. Sebanyak 56 warga asal Myanmar yang ditampung di Gedung Pramuka itu ternyata tidak semua para imigran gelap. Enam pemuda yang termasuk dalam rombongan, mengaku wisatawan yang sengaja datang ke Indonesia secara resmi. “Kami berenam datang untuk wisata,” cetus Khoung. Khoung mengaku bersama lima temannya memiliki dokumen yang sah seperti paspor.

Bahkan, mereka sudah booking  pesawat untuk kembali ke negaranya. “Saat akan ke bandara, ada orang yang minta masuk bus, ternyata rombongan ini,” sebut Khoung sambil menunjukkan bukti booking pesawat dan identitas lainnya. Dengan menggunakan bahasa Melayu, Khoung menyebut kedatangannya ke Indonesia memang terkait kerusuhan yang ada di negaranya. Oleh orang tuanya, sengaja diminta datang ke Indonesia agar aman. “Paspor kami diminta anggota polisi, kami gak tahu namanya,” katanya sambil berharap polisi segera mengembalikan paspornya itu.

Keberadaan 56 imigran gelap etnis Rohingnya dari Myanmar ini, ternyata mengundang simpati warga Banyuwangi. Tidak sedikit warga yang menyerahkan bantuan berupa makanan, air kemasan, pampers, dan kebutuhan perempuan. “Sesama muslim itu saudara, mereka ini (imigran gelap) saudara kita,” tutur seorang warga. Selain warga,  sejumlah wartawan di Banyuwangi juga ikut membantu para imigran gelap tersebut. Pemkab Banyuwangi juga mengirim bantuan berupa makanan kecil dan tenaga medis. “Ini untuk aksi kemanusiaan,” cetus Sekkab Banyuwangi Slamet Karyono saat berkunjung ke Gedung Pramuka kemarin. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :