Sahur dan Buka Puasa pun Harus Sembunyi

0
370

BAGI kalangan buruh migran Indonesia (BMI) yang ada di Hongkong, Bulan Ramadan meru-pakan bulan penuh berkah, juga bulan penuh kesedihan. Tidak berkumpulnya bersama sanak keluarga saat menjalankan ibadah puasa menjadi kesedihan ter-sendiri di tanah rantau ini.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dengan bekerja ikut orang yang berbeda agama dan kepercayaan, terkadang terasa sangat sulit untuk diraih. Kadangkala, para majikan, di mana BMI ini bekerja, tidak mengizinkan para pekerjannya berpuasa. Alasannya klasik; takut pekerjanya sakit kelaparan, selalu menjadi tombak untuk menolak keinginan para BMI yang ingin menjalankan ibadah agamanya.

Maka, tak jarang para BMI ini puasa secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Diam tidak makan sahur; lantaran takut ketahuan makan pagi-pagi buta. Dan, diam saat terlambat berbuka; lantaran majikan belum waktunya makan malam. Kali ini, bulan suci Ramadan jatuh tepat di puncak musim panas.

Suhu udara naik drastis mencapai 34-37 derajat celcius, dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Ritme pekerjaan tiada henti, disertai suhu udara yang sangat tidak bersahabat, menjadi cobaan luar biasa bagi para BMI. Terlbih lagi, yang berprofesi menjaga anak-anak atau balita.

Antar jemput sekolah, mengantar les, menjijing tas yang lumayan berat dalam keadaan berpuasa dan suhu yang panas kadang kala menjadi hambatan untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan tumakninah. Tak jarang BMI ini menyerah di tengah jalan. Tidak hanya keadaan seputar makanan yang menggoda, tetapi emosi pun diuji.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last