Sahur dan Buka Puasa pun Harus Sembunyi

0
209

BAGI kalangan buruh migran Indonesia (BMI) yang ada di Hongkong, Bulan Ramadan meru-pakan bulan penuh berkah, juga bulan penuh kesedihan. Tidak berkumpulnya bersama sanak keluarga saat menjalankan ibadah puasa menjadi kesedihan ter-sendiri di tanah rantau ini.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dengan bekerja ikut orang yang berbeda agama dan kepercayaan, terkadang terasa sangat sulit untuk diraih. Kadangkala, para majikan, di mana BMI ini bekerja, tidak mengizinkan para pekerjannya berpuasa. Alasannya klasik; takut pekerjanya sakit kelaparan, selalu menjadi tombak untuk menolak keinginan para BMI yang ingin menjalankan ibadah agamanya.

Maka, tak jarang para BMI ini puasa secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Diam tidak makan sahur; lantaran takut ketahuan makan pagi-pagi buta. Dan, diam saat terlambat berbuka; lantaran majikan belum waktunya makan malam. Kali ini, bulan suci Ramadan jatuh tepat di puncak musim panas.

Suhu udara naik drastis mencapai 34-37 derajat celcius, dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Ritme pekerjaan tiada henti, disertai suhu udara yang sangat tidak bersahabat, menjadi cobaan luar biasa bagi para BMI. Terlbih lagi, yang berprofesi menjaga anak-anak atau balita.

Antar jemput sekolah, mengantar les, menjijing tas yang lumayan berat dalam keadaan berpuasa dan suhu yang panas kadang kala menjadi hambatan untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan tumakninah. Tak jarang BMI ini menyerah di tengah jalan. Tidak hanya keadaan seputar makanan yang menggoda, tetapi emosi pun diuji.

Seberapa besar kesabaran para BMI dalam melayani orang yang kadangkala terlalu cerewet. Anak asuh yang nakal, atau majikan yang selalu komplain perihal pekerjaan. Tak ada pilihan lain, itu adalah pilihan mutlak yang sudah disepakati dalam kontrak kerja, meski dalam keadaan puasa, haus, dan lapar sekalipun. Hal inilah yang menjadi kesedihan para BMI yang kini merantau di Negeri Jacky Chan ini.

Di mana seharusnya berkumpul bersama keluarga, menikmati makan sahur dan buka bersama-sama, justru saat ini berada di negeri orang. Air mata yang bergulir adalah air mata keimanan yang teruji dalam kehidupan. Meski begitu, para BMI ini tak selalu larut dalam kesedihan terus-menerus. Berbagai upaya dila-kukan untuk menghibur nestapa yang datang.

Berusaha bergembira di bulan Ramadan dengan berbagai kegiatan positif. Seperti be-rkumpul bersama teman, mengaji Alquran, juga beribadah tarawih. Meski tidak semua bisa mendapatkan hak untuk izin salat tarawih berjamaah. Hal yang paling mengesankan bagi BMI saat bulan puasa adalah, ketika libur dan berbuka bersama dengan kerabat dari Indonesia.

Ini merupakan salah satu kebahagiaan yang menentramkan jiwa, meski hanya dapat dijalankan satu kali dalam seminggu. Tapi, momentum ini begitu indah untuk dikenang. Kala sore telah merapat di bumi Hongkong pada hari Minggu, lapangan sepak bola yang terang benderang oleh lampu ribuan watt, segera dipenuhi oleh ribuan BMI yang sedang berlibur.

Mereka menggelar tikar atau pun plastik sebagai alas tem-pat duduk. Kemudian menyiapkan makanan dan minuman. Biasanya, para BMI ini memesan makanan dari warung-warung Indonesia. Ada pula yang membawa takjil dan makanan dari rumah. Nasi, lauk pauk, cemilan, jajan, dan buah tak ketinggalan. Piring, sendok, garpu serta berbagai alat kebutuhan untuk berbuka juga tersedia di atas tikar dan di-kelilingi para BMI yang sedang me ngaji atau duduk saling bertukar cerita.

Mereka, tak peduli lagi bola-bola sepak yang menggelinding di kanan-kiri. Karena hanya lapangan ini yang paling terang lampunya. Ja dinya, BMI ini berbuka di an tara orang-orang Hongkong yang sedang main sepak bola. Tak hanya itu, berdirinya berbagai organisasi keagamaan ikut andil dalam sumbangsih di bulan Ramadan.

Mereka biasanya mengundang para dai dari Indonesia untuk me ngisi mimbar Ramadan yang di adakan sehari penuh hingga tiba waktu berbuka. Jadi, meski tidak dapat melaksanakan Ra madan di negeri sendiri, Ra ma dan di tanah rantau tetap mem bawa kebahagiaan meski da lam keterbatasan. Paling ti dak, sejenak dapat melupakan kesedihan tidak dapat ber ku mpul dengan keluarga di kam pung halaman. (@radar) Penulis adalah anggota BMI di Hongkong asal Banyuwangi.

Loading...