Sebelum Dikhitan, Tubuh Bocah Ditetesi Darah Ayam

0
366
TRADISI: Sesepuh menetesi tubuh Akbar dan Alfi dengan darah ayam.
TRADISI: Sesepuh menetesi tubuh Akbar dan Alfi dengan darah ayam.

Ritual Koloan merupakan tradisi warga Suku Osing yang akan melaksanakan khitanan. Sayang, tradisi peninggalan leluhur itu sudah hampir punah. Bahkan, tidak sedikit warga Kota Gandrung yang tidak mengenali lagi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SEJUMLAH warga yang mengenakan sarung dan songkok duduk lesehan di salah satu halaman rumah warga di Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri. Posisi duduk mereka membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran itu tampak seperti sesaji dan beraneka jenis makanan.

Salah satu sesepuh kampung memimpin acara itu menggunakan bahasa Osing. Diawali sambutan dan wasilah (perantara), ritual itu dilanjutkan dengan doa yang dipimpin tokoh agama setempat. Sebagai penutup, aneka makanan khas Osing dibagi rata dan dimakan bersama. “Ini namanya koloan.

Ritual ini asli tradisi Osing saat khitanan,” cetus Sanusi, salah satu tokoh adat yang memimpin ritual itu. Meski para jamaah yang hadir dalam acara itu sudah makan bersama, ternyata ritualnya belum berakhir. Bahkan, ritual yang baru dilaksanakan itu hanya sebagai pembuka. “Inti ritual koloan adalah anak yang akan khitan ditetesi darah ayam,” jelas warga Desa/Kecamatan Glagah itu.

Sanusi yang biasa disapa Pak Usi itu oleh warga diminta memimpin ritual koloan Dalam tradisi ini, dua anak yang akan dikhitan, yakni Akbar Galang Prayogo, 11, dan Alfi Sahri, 11, harus melepas pakaian. Kedua bocah yang hanya mengenakan celana pendek itu didoakan bersama oleh warga. Sebagai puncak ritual, Akbar dan Alfi diminta duduk tanpa kursi.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last