Sebelum Dikhitan, Tubuh Bocah Ditetesi Darah Ayam

0
456
TRADISI: Sesepuh menetesi tubuh Akbar dan Alfi dengan darah ayam.

Ritual Koloan merupakan tradisi warga Suku Osing yang akan melaksanakan khitanan. Sayang, tradisi peninggalan leluhur itu sudah hampir punah. Bahkan, tidak sedikit warga Kota Gandrung yang tidak mengenali lagi.

SEJUMLAH warga yang mengenakan sarung dan songkok duduk lesehan di salah satu halaman rumah warga di Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri. Posisi duduk mereka membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran itu tampak seperti sesaji dan beraneka jenis makanan.

Salah satu sesepuh kampung memimpin acara itu menggunakan bahasa Osing. Diawali sambutan dan wasilah (perantara), ritual itu dilanjutkan dengan doa yang dipimpin tokoh agama setempat. Sebagai penutup, aneka makanan khas Osing dibagi rata dan dimakan bersama. “Ini namanya koloan.

Ritual ini asli tradisi Osing saat khitanan,” cetus Sanusi, salah satu tokoh adat yang memimpin ritual itu. Meski para jamaah yang hadir dalam acara itu sudah makan bersama, ternyata ritualnya belum berakhir. Bahkan, ritual yang baru dilaksanakan itu hanya sebagai pembuka. “Inti ritual koloan adalah anak yang akan khitan ditetesi darah ayam,” jelas warga Desa/Kecamatan Glagah itu.

Sanusi yang biasa disapa Pak Usi itu oleh warga diminta memimpin ritual koloan Dalam tradisi ini, dua anak yang akan dikhitan, yakni Akbar Galang Prayogo, 11, dan Alfi Sahri, 11, harus melepas pakaian. Kedua bocah yang hanya mengenakan celana pendek itu didoakan bersama oleh warga. Sebagai puncak ritual, Akbar dan Alfi diminta duduk tanpa kursi.

Selanjutnya, dua warga menyembelih ayam persis di atas kedua bocah yang duduk itu. Darah segar pun keluar dari leher ayam yang disembelih. Darah ayam itu menetes ke tubuh kedua bocah yang akan dikhitan tersebut. Meneteskan darah ayam itu berlangsung sekitar sepuluh menit hingga ayamnya mati dan darahnya habis. Darah ayam pun mengguyur tubuh kedua bocah itu.

Mulai rambut, punggung, hingga tangan bocah tersebut berlumuran darah. Sebagai penutup, Pak Usi mengusapkan pitung tawar ke kepala kedua anak yang akan dikhitan itu. “Pitung tawar itu bahannya beras dan kunir,” jelasnya. Usai ritual, kedua bocah yang akan dikhitan itu digiring kemusala terdekat. Di musala itu, keduanya dimandikan oleh warga hingga darah dan pitung tawar yang melekat di tubuh mereka bersih. “Ritual koloan ini asli tradisi warga Osing yang ada sejak dulu,” jelasnya.

Baca :
Warga Geger, Seorang Pemuda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Kelengkeng, Ini Kronologinya

Dalam Islam, khitan merupakan syarat yang harus dilaksanakan ketika balig. Khi tan merupakan ajaran agama yang kali pertama dilaksanakan Nabi Ibrahim. “Ritual koloan ini tradisi yang berpegang pada sejarah Nabi Ibrahim,” cetusnya. Menyembelih ayam dan darahnya dikucurkan ke anak yang akan dikhitan adalah bentuk penghormatan kepada Nabi Ibrahim yang telah mengorbankan anaknya, Nabi Ismail, meski pada akhirnya Nabi Ismail diganti seekor kambing oleh Allah.

Tradisi ini bukan hanya ada di Bulan Haji (Zulhijah), tapi kapan saja,” jelasnya. Dengan nada serius, Pak Usi mem beberkan, dengan melaksanakan ritual koloan ini, diharapkan anak yang dikhitan menjadi anak yang Saleh dan bisa meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail. “Juga demi kese lamatan dan agar tidak ada halangan,” sebutnya.

Makna lain ritual ini, yaitu mengusapkan pitung tawar ke kepala anak yang akan di khitan, diharapkan anak yang dikhitan itu nanti memiliki kekuatan dan kekebalan dari segala jenis penyakit dan marabahaya. “Ini tradisi yang sangat bagus,” cetusnya. Sayang, tradisi yang penuh makna ini ternyata nyaris punah. Warga yang mengkhitankan anaknya sudah banyak yang meninggalkan tradisi tersebut. “Tradisi ini dibawa oleh orang-orang yang menyebarkan Islam di Blambangan,” sebut Usi. (radar)