Beranda Ekonomi Semangka Harga Terjun Bebas, Utang Terbang Tinggi

Semangka Harga Terjun Bebas, Utang Terbang Tinggi

0
1311

semangkaPetani semangka di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, kini sedang dirundung sedih. Panen raya yang diharapkan bisa mendongkrak penghasilan gagal terwujud. Anjloknya harga saat ini merupakan yang terburuk selama lima tahun terakhir.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

MENDUNG yang menutup langit Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, siang itu tidak menghalangi aktivitas petani semangka. Mengenakan topi dan baju lengan panjang, mereka asyik memanen buah semangka di sawah. Tidak hanya satu-dua, sore itu ra tusan orang memanen buah berwarna hijau itu. Sesuai prediksi, awal bulan Desember ini merupakan mu sim panen raya bagi petani se mangka di Kecamatan Muncar.

Tidak heran, momen itu diharapkan menjadi kesempatan bagi petani untuk mendapat penghasilan lebih. Tetapi, harapan itu meleset. Sebab, harga semangka kini tidak sesuai rasanya yang manis. Di wilayah Muncar banyak petani yang menggantungkan harapan terhadap lahan seluas 360 hektare (ha). Tetapi, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa harga semangka terjun bebas hingga Rp 500 per Kg.

Itulah yang dirasakan dua petani asal Desa Tembokrejo, Muncar, Agus Sugiharto dan Agus Rediyanto. Duo Agus tersebut ha nya bisa mengelus dada dan menghela napas panjang saat memanen semangka miliknya. Seakan tidak percaya dengan kondisi yang ada, dua petani itu sulit berkata panjang-lebar tentang panen raya semangka saat ini. Kini dia dibayangi tumpukan utang yang menggunung. Sebab, biaya yang digunakan meng garap lahan semangka itu, mereka pinjam ke koperasi. “Jelas utang bakal bertambah.

Selain membayar cicilan, kita juga harus pinjam lagi agar bisa bangkit,” keluh Agus Sugiharto. Modal menanam semangka memang cukup besar. Modal tanam semangka di lahan se perempat ha membutuhkan biaya Rp 2,5 juta. Itu sudah termasuk bibit, pupuk, dan obat. Tetapi, itu belum biaya sewa lahan. Biaya sewa lahan seperempat ha adalah Rp 1 juta. Pasca panen, petani masih harus mengeluarkan ongkos buruh pikul dan makan mereka sebesar Rp 500 ribu per seperempat ha. Bila seperempat ha rata-rata menghasilkan lima ton, tentu petani masih mengalami defisit alias rugi besar.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last

Loading...

error: Uppss.......!