Semasa Hidup tak Pernah Makan Ikan Laut

  • Bagikan

Tenggelamnya Ahmad Al- Barry, 12, di Pantai Cacalan meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan orang dekatnya. Bagaimana keseharian warga Perumahan Villa Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, itu?

-AGUS BAIHAQI, Kalipuro-

Suasana duka masih menyelimuti rumah pasangan Sentot Setiawan, 55, dan Sasa Ariyani Baco, 48, di Blok E 12A, Perumahan Villa Sukowidi, Banyuwangi. Sebuah tenda berukuran kecil masih berdiri di halaman rumah tersebut. Di bawah tenda itu masih ada tumpukan kursi plastik yang disediakan untuk para petakziah. Sejumlah keluarga dan para te- tangga masih terus berdatangan ke rumah Ahmad Al-Barry.

Sehari sebelumnya (29/5), jenazah siswa kelas VI SDN 1 Klatak itu ditemu- kan nelayan di Perairan Tanjung. Para tamu yang hadir ditemui lang- sung orang tua korban, pasangan Sentot dan Sasa. “Monggo, silakan masuk,” pinta salah satu cewek berusia belasan tahun saat wartawan koran ini datang ke rumah duka sore kemarin. Setelah menung- gu beberapa saat, pria paro baya yang tak lain Sentot Seti- awan muncul dari kamar depan.

Dari raut wajahnya, tampak jelas Sekretaris Kelurahan (Sekkel) Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, itu dalam suasana duka mendalam. “Barry itu anak saya yang bungsu. Anak saya empat,” katanya. Kepada wartawan koran ini Sentot banyak menceritakan i rasat yang dirasakan menjelang Ahmad Al-Barry meninggal. Beberapa perilaku aneh ditunjukkan anak bungsunya itu. “Minggu pagi (28/5) ada tetangga yang meninggal, Barry ikut takziah sampai proses pemakaman,” ujarnya.

Sepulang dari pemakaman, Barry yang gemar membaca buku agama itu banyak menanyakan terkait orang meninggal. Selain itu, dia juga banyak tanya tentang kuburan. “Sempat tanya dilapangkan kuburnya oleh Allah itu maksudnya apa,” cetus Sentot menirukan pertanyaan putra bungsunya itu. Sentot mulanya menganggap pertanyaan anaknya itu wajar. Apalagi, itu bagian dari materi pelajaran agama di sekolah.

Baca :
Mengejutkan, Ini Penyebab Pernikahan Usia Dini di Banyuwangi

“Setelah jelaskan mamanya, Barry bilang bahwa jika meninggal nanti kuburnya ingin dilapangkan Allah,” kata Sentot dengan mata berkaca-kaca. Keanehan lain yang diperlihatkan korban, beberapa hari terakhir dia terlihat semakin sayang kepada mamanya. Pada Sabtu malam (27/5), putranya itu minta tidur bersama mamanya dan memeluk erat mamanya. “Biasanya tidur bersama saya, tapi malam Minggu minta tidur bersama mamanya,” tuturnya dengan wajah menerawang.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Barry bukan tipe anak yang manja.  Oleh keluarganya, Barry dianggap anak yang mandiri karena sering ditinggal pergi kedua orang tuanya. “Mainnya sering di sekitar rumah saja,” sebut Sasa Ariyani Baco, ibu kandung korban dengan suara lirih. Sebagai ibu, Sasa mengaku sa ngat sayang dan memperhatikan perkembangan semua anaknya. Meninggalnya Barry karena tenggelam di laut itu membuat ibu tersebut sangat terpukul. “Saya tidak menyangka Barry akan bermain di laut,” katanya.

Sepengetahuan orang tuanya, Barry tidak pernah bermain di pantai. Bahkan, putranya tersebut pernah menyampaikan tidak akan pernah mandi di laut karena takut tenggelam. “Selama hidupnya, Barry juga tidak pernah makan semua jenis ikan yang hidup di laut,” sebutnya. Terkait ikan laut tersebut, bocah yang ingin melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah setelah lulus dari SDN 1 Klatak itu pernah meminta orang tuanya tidak memasak ikan laut. “Waktu hilang di laut, saya yakin Barry akan dijaga oleh ikan-ikan, karena selama ini dia sangat sayang kepada ikan laut,” ujarnya. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: