Tak Lulus SMA, Berguru kepada Warga Jepang

0
375
BERBAKAT: Noris bersantai di camp di Pantai Plengkung.

Noris, 24, pemuda asal Desa/Kecamatan Tegaldlimo, termasuk fotografer berbakat dengan spesialisasi objek surfing di Pantai Plengkung. Meski tak lulus SMA, karyanya sudah banyak beredar ke seluruh penjuru dunia.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PENAMPILAN Noris memang biasa saja. Tubuhnya kurus dan kulitnya sawo matang terlihat agak kering. Rambutnya yang agak kemerah-merahan sedikit acak-acakan. Sepertinya rambut itu jarang tersentuh sisir dan minyak rambut. Sehari-hari, pemuda dengan tinggi sekitar 165 centimeter tersebut suka memakai kaus oblong.

Dia sering mengenakan celana pendek. Penampilannya terkesan sederhana dan apa adanya. Bila dilihat sekilas, Noris memang nyaris tak ada yang istimewa. Bahkan, pemuda yang murah senyum itu sedikit pemalu. Sepertinya, dia memang tak suka menonjolkan diri.

Namun, pandangan sekilas tersebut akan sirna manakala kita melihat foto-foto karyanya. Dia sangat luar biasa dalam mengabadikan aksi para turis yang berselancar di gulungan ombak Pantai Plengkung, Kecamatan Tegaldlimo. Hasil jepretannya sangat istimewa.

Dia bisa mengambil gambar para peselancar dalam berbagai posisi. Banyak aksi menakjubkan para peselancar di dalam gulungan ombak yang dia abadikan. Bukan hanya itu, puluhan turis yang berselancar di atas ombak dan saling berkejaran dengan peselancar lain juga berhasil direkam dalam bingkai foto.

Selain piawai mengambil angle foto para turis yang sedang berselancar, pemuda yang tidak lulus SMA itu juga sering mengabadikan ikan paus yang kadang memainkan sirip di Pantai Plengkung Burung elang laut yang terbang bebas di atas awan sambil mencengkeram ikan dari Pantai Plengkung juga sering diabadikan Noris.

Bahkan, dia pernah mendapat gambar burung elang yang terbang sambil mencengkeram ular. Kalau menyaksikan karya-karya Noris, kita akan terbawa dalam dunia surfing dan alam tropis yang masih perawan. Karya foto itu begitu bernilai dan memiliki power.

Namun, siapa sangka juru foto tersebut ter nyata mantan petugas cleaning service (ke bersihan) di Bobby’s Surf Camp, Pantai Pleng kung. Noris tak pernah memiliki latar belakang pendidikan formal fotografi . Bahkan, dia tidak lulus SMA. Noris adalah pemuda desa yang sekitar sepuluh tahun silam mencoba mengadu nasib menjadi cleaning service di Bobby’s Surf Camp.

Bakatnya sebagai fotografer mu lai terlihat saat dia berkenalan dengan turis asal Jepang yang berkunjung ke Pantai Plengkung. Saat itu, warga Jepang tersebut sering me ngajak Noris ke Pantai Plengkung untuk hunting foto-foto menarik. Dia juga diajari cara menggunakan kamera. Seiring waktu, Noris bisa menggunakan kamera.

Dia juga semakin tertarik dengan dunia fotografi . Sejak itu, Noris rutin mengabadikan gambar di Pelngkung setiap pagi dan sore. Setelah temannya dari Jepang tersebut pulang ke negara asalnya, bakat Noris kembali terasah. Kali ini, dia bertemu seorang fotografer asal Amerika Serikat bernama Dave.

Saya banyak belajar dari Dave. Sampai sekarang Dave masih sering ke sini dan kadang mengabadikan gambar bersama saya,” tutur Noris. Sejak dua tahun lalu, Noris beralih profesi. Kini dia bekerja sebagai fotografer dengan fasilitas dari Bobby’s Surf Camp.

Setiap pagi dan sore, dia selalu berangkat ke pantai untuk mengambil gambar para turis yang ber selancar di tengah  gulungan ombak Pantai Plengkung.Bila ingin menonjolkan keindahan para turis berselancar di dalam gulungan ombak, dia harus naik speed boat dan berhenti di posisi tertentu lalu mengambil gambar.

Cara kedua, dia me ma kai pelampung dan mengambil gambar de ngan cara mengapungkan tubuh di atas air laut. “Cuma mengambil gambar dengan cara mengapung di atas air ini lebih sulit. Karena kadang ombaknya kurang bersahabat,” tuturnya.

Satu lagi, Noris juga sesekali mengambil foto para turis berselancar dengan menonjolkan panjangnya gulungan ombak. Untuk yang satu ini, dia cukup mengambil dari darat. Mengambil gambar dari darat ini adalah cara yang paling mudah, karena nggak perlu menyesuaikan posisi dengan ombak laut.

“Hanya butuh kesabaran menunggu momen bagus,” jelasnya. Nah, hasil jepretan Noris tersebut di pertunjukkan kepada para turis saat ma kam malam di restoran Bobby’s Surf Camp. Bila beruntung, para turis tak hanya menyaksikan foto-foto mereka saat berselancar. Terkadang, turis juga membeli karya Noris tersebut. “Biasanya satu foto dihargai dua ratus ribu rupiah,” pung kasnya. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :