Timses Prabowo Laporkan Bupati-Kemenag ke Panwas

0
217

timsesAnas: Dana Ditransfer ke Rekening Yayasan


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI – Tim sukses (timses) pasangan Prabowo- Hatta Rajasa lapor ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Banyuwangi kemarin (7/7). Tim pemenangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut satu itu melaporkan Bupati Banyuwangi dan kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi yang dituding tidak netral pada pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden esok.

Anggota timses Prabowo-Hatta, Ahmad Ali Waffa mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari beberapa guru ngaji yang menerima dana insentif dari pemkab.Guru ngaji itu mengaku di dalam amplop berisi uang tunjangan yang mereka terima terdapat stiker bergambar pasangan caprescawapres Joko Widodo (Jokowi)- Jusuf Kalla (JK). Dalam amplop tersebut juga terdapat contoh kartu Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat yang notabene menjadi salah satu program pasangan Jokowi-JK. 

Saat menyampaikan laporan ke Panwalu kemarin, timses Prabowo- Hatta menyertakan sejumlah barang bukti, antara lain uang tunai Rp 50 ribu, 20 lembar stiker bergambar Jokowi-JK, 17 contoh kartu Indonesia Pintar, 4 contoh kartu Indonesia Sehat, dan tiga amplop bertulisan nama guru ngaji penerima insentif tersebut. Waffa menuturkan, sampai kemarin pihaknya menemukan hal itu di 15 kecamatan di Bumi Blambangan. Beberapa di antaranya adalah Kecamatan Kalibaru, Genteng, Purwoharjo, Bangorejo, dan Rogojampi.

“Sampel yang kami bawa berasal dari Kecamatan Kabat. Kami dapat informasi amplop berisi insentif bagi guru ngaji itu dibagikan usai salat tarawih  tadi malam (Minggu malam). Mereka mengaku insentif didapatkan dari koordinator desa. Koordinator desa memperolehnya dari koordinator kecamatan. Kami menyayangkan hal itu melibatkan oknum pemkab, sehingga kami melaporkan Bupati Banyuwangi dan kepala Kemenag Banyuwangi,” paparnya. 

Waffa menambahkan, pihaknya menerima banyak laporan dari guru ngaji yang mengaku mendapat amplop berisi stiker Jokowi-JK, contoh Kartu Indonesia Pintar, dan contoh Kartu Indonesia Sehat. “Dalam amplop tersebut tertera nama penerima insentif plus uang insentif,” ujarnya. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tiga amplop yang disertakan sebagai barang bukti laporan timses Prabowo-Hatta itu masing-masing tertulis atas nama As-Syubaniyah dan Nur Hasan.

Keduanya asal Dusun Krajan, Desa Labanasem, Kecamatan Kabat, dan Nurur Rihman, asal Dusun Malar, Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat. Amplop tersebut juga bertulisan nominal uang yang terdapat di dalamnya. Dua amplop itu berisi uang senilai Rp 675 ribu dan satu amplop berisi uang senilai Rp 900 ribu. Namun, saat laporan disampaikan, amplop tersebut sudah dalam kondisi terbuka. 

Waffa mengaku uang yang terdapat dalam amplop itu sudah diambil masing-masing guru ngaji yang menerima. Waffa menegaskan, selain lapor ke Panwaslu, pihaknya juga akan melapor kepada polisi jika peristiwa tersebut merupakan bagian dari ketidaknetralan pemkab. “Apalagi ini dilakukan di hari tenang. Kami meminta Panwaslu, Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan polisi, segera menyikapi hal ini agar tidak timbul keresahan  di masyarakat,” pintanya.

Ketua Panwaslu Banyuwangi, Rorry Desrino Purnama, membenarkan pihaknya menerima laporan dari timses Prabowo- Hatta tersebut. Dikatakan, Panwaslu akan mempelajari danmengolah laporan tersebut beserta bukti-bukti yang diserahkan. Setelah itu, kita akan melakukan kajian apakah perlu melakukan proses klarifikasi dengan mengundang pihak pelapor dan terlapor. Setelah proses klarifikasi, imbuh Rorry, Panwaslu akan melakukan kajian-kajian lebih lanjut. 

“Keputusan terkait laporan itu akan diplenokan,” cetusnya. Sementara itu, secara terpisah Bupati Abdullah Azwar Anas membantah tudingan yang dialamatkan kepadanya. Menurut Anas, aliran dana insentif guru ngaji tidak dibagikan dalam bentuk cash, melainkan ditransfer ke masing-masing yayasan yang menaungi guru ngaji tersebut. “Saya tegaskan itu tidak benar. Pencairannya tidak cash, tapi ditransfer ke rekening yayasan yang menaungi guru ngaji masingmasing.

Nah, lembaganya kan banyak, dan itu sudah terputus sama sekali dengan kita (Pemkab Banyuwangi),” tegasnya. Anas menambahkan, pemberian insentif kepada guru ngaji itu tidak hanya dilakukan tahun ini melainkan sudah diberikan setiap tahun. Selain kepada guru ngaji, insentif serupa juga dibagikan kepada ketua RT dan RW. “Sebentar lagi kita juga membagi insentif ke posyandu,” kata bupati berusia 41 tahun tersebut. 

Lebih jauh dikatakan, sejak awal dirinya meminta birokrasi harus bersih dari kepentingan politik jangka pendek. Sebab, itu akan mengganggu kualitas birokrasi Pemkab Banyuwangi.Anas menegaskan, pihaknya tidak berencana melaporkan balik pihak yang telah melaporkan dirinya ke Panwaslu tersebut. Hanya, dia menyatakan siap memenuhi panggilan Panwaslu terkait laporan timses Prabowo- Hatta tersebut. “Saya siap datang jika dipanggil Panwaslu,” pungkasnya. (radar)

Loading...