Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Tol Mamminasata Masuk Proyek KPBU, Jadi Penghubung Strategis Makassar hingga Takalar

tol-mamminasata-masuk-proyek-kpbu,-jadi-penghubung-strategis-makassar-hingga-takalar
Tol Mamminasata Masuk Proyek KPBU, Jadi Penghubung Strategis Makassar hingga Takalar

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek Jalan Tol Mamminasata resmi tercantum dalam daftar proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada portal SIMPUL KPBU Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi tulang punggung konektivitas kawasan metropolitan Mamminasata yang meliputi Makassar, Maros, Sungguminasa (Gowa), dan Takalar.

Berdasarkan informasi yang ditampilkan pada laman resmi SIMPUL KPBU, Jalan Tol Mamminasata dirancang sebagai jaringan jalan tol baru yang berfungsi menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.

Kehadiran tol ini diharapkan mampu memperlancar mobilitas barang dan jasa, sekaligus mengurangi beban lalu lintas jalan nasional yang selama ini menjadi jalur utama antarwilayah.

Dalam proyek KPBU tersebut, Menteri PUPR bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK).

Skema kerja sama yang digunakan adalah DBFOMT (Design, Build, Finance, Operate, Maintenance, and Transfer), di mana badan usaha bertanggung jawab mulai dari perencanaan, pembangunan, pendanaan, pengoperasian, pemeliharaan, hingga pengalihan aset kepada pemerintah di akhir masa konsesi.

Untuk menjamin kelayakan dan kepastian investasi, pemerintah juga menyiapkan dukungan berupa jaminan pemerintah yang akan diajukan melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII).

Skema ini diharapkan dapat meningkatkan minat investor sekaligus meminimalkan risiko proyek.

Dari sisi kelayakan ekonomi, proyek Tol Mamminasata menunjukkan indikator yang cukup kuat.

Nilai Economic Internal Rate of Return (EIRR) tercatat sebesar 28,59 persen, sementara Economic Net Present Value (ENPV) mencapai sekitar Rp190 miliar.

Indikator tersebut menunjukkan bahwa proyek ini dinilai memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan wilayah sekitar.

Sementara dari aspek kelayakan finansial, proyek ini juga dinilai layak secara investasi.

Financial Internal Rate of Return (FIRR) tercatat sebesar 11,28 persen, dengan Financial Net Present Value (FNPV) mencapai Rp1,17 triliun.

Adapun Weighted Average Cost of Capital (WACC) berada di angka 10,28 persen, yang menjadi salah satu acuan utama dalam penilaian kelayakan pendanaan proyek.

Sumber: simpulkpbu.pu.go.id


Page 2

Secara teknis, Jalan Tol Mamminasata dirancang memiliki panjang sekitar 34,5 kilometer dengan konfigurasi 2×3 lajur.

Lebar lajur awal direncanakan 3,6 meter, dengan lima on/off ramp dan empat simpang susun untuk mendukung aksesibilitas ke berbagai kawasan.

Kecepatan rencana tol ini ditetapkan sebesar 80 kilometer per jam, menyesuaikan dengan karakteristik wilayah yang dilintasi.

Selain itu, proyek ini juga dibagi ke dalam beberapa seksi jalan tol yang telah dirancang untuk memudahkan tahapan pembangunan dan pengoperasian.

Pada laman SIMPUL KPBU, juga ditampilkan gambar dan diagram struktur proyek yang memberikan gambaran visual mengenai skema kerja sama dan alur pembangunan.

Dari sisi perencanaan, linimasa proyek Jalan Tol Mamminasata mencakup sejumlah tahapan, mulai dari studi pendahuluan, outline business case, hingga final business case.

Meski beberapa tahapan masih dalam proses pengisian, proyek ini telah masuk dalam perencanaan strategis nasional untuk pengembangan infrastruktur jalan tol.

Menariknya, portal SIMPUL KPBU juga menyediakan fitur formulir review, yang memungkinkan publik maupun pemangku kepentingan memberikan masukan atau tanggapan terhadap proyek tersebut.

Hal ini menjadi bagian dari upaya transparansi dan keterbukaan informasi dalam pengembangan proyek KPBU.

Dengan masuknya Jalan Tol Mamminasata dalam daftar proyek KPBU Kementerian PUPR, pemerintah berharap pembangunan infrastruktur di Sulawesi Selatan semakin terakselerasi.

Tol ini tidak hanya diharapkan menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan Mamminasata secara berkelanjutan. (*)

Sumber: simpulkpbu.pu.go.id


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek Jalan Tol Mamminasata resmi tercantum dalam daftar proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada portal SIMPUL KPBU Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi tulang punggung konektivitas kawasan metropolitan Mamminasata yang meliputi Makassar, Maros, Sungguminasa (Gowa), dan Takalar.

Berdasarkan informasi yang ditampilkan pada laman resmi SIMPUL KPBU, Jalan Tol Mamminasata dirancang sebagai jaringan jalan tol baru yang berfungsi menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.

Kehadiran tol ini diharapkan mampu memperlancar mobilitas barang dan jasa, sekaligus mengurangi beban lalu lintas jalan nasional yang selama ini menjadi jalur utama antarwilayah.

Dalam proyek KPBU tersebut, Menteri PUPR bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK).

Skema kerja sama yang digunakan adalah DBFOMT (Design, Build, Finance, Operate, Maintenance, and Transfer), di mana badan usaha bertanggung jawab mulai dari perencanaan, pembangunan, pendanaan, pengoperasian, pemeliharaan, hingga pengalihan aset kepada pemerintah di akhir masa konsesi.

Untuk menjamin kelayakan dan kepastian investasi, pemerintah juga menyiapkan dukungan berupa jaminan pemerintah yang akan diajukan melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII).

Skema ini diharapkan dapat meningkatkan minat investor sekaligus meminimalkan risiko proyek.

Dari sisi kelayakan ekonomi, proyek Tol Mamminasata menunjukkan indikator yang cukup kuat.

Nilai Economic Internal Rate of Return (EIRR) tercatat sebesar 28,59 persen, sementara Economic Net Present Value (ENPV) mencapai sekitar Rp190 miliar.

Indikator tersebut menunjukkan bahwa proyek ini dinilai memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan wilayah sekitar.

Sementara dari aspek kelayakan finansial, proyek ini juga dinilai layak secara investasi.

Financial Internal Rate of Return (FIRR) tercatat sebesar 11,28 persen, dengan Financial Net Present Value (FNPV) mencapai Rp1,17 triliun.

Adapun Weighted Average Cost of Capital (WACC) berada di angka 10,28 persen, yang menjadi salah satu acuan utama dalam penilaian kelayakan pendanaan proyek.

Sumber: simpulkpbu.pu.go.id