Tontonan Spektakuler di Atas Sungai

0
223

tontonanGLAGAH – Perhelatan Kemiren Art Performance benar-benar sukses menyuguhkan tontonan spektakuler dan sarat makna. Mengangkat legenda asal-usul nama Banyuwangi, pertunjukan yang disajikan secara live di atas Kali Gulung, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Sabtu malam (21/6) tersebut membuat penonton tak henti berdecak kagum. Penampilan para performer serta pemilihan latar yang tepat mampu mengajak penonton “menyelami” cerita rakyatCerita itu menggambarkan kesetiaan Sri Tanjung kepada suaminya, Patih Sidopekso.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Musik serta properti berupa ratusan obor yang dijajar di kanan-kiri jalan menuju lokasi pertunjukan semakin menambah kesan megah pertunjukan malam itu. Cerita dimulai ketika tiga pria yang masing-masing berperan sebagai raja, yakni Prabu Sulahkromo; Patih Sidopekso; dan Tumenggung Tirtolewo, masuk ke panggung pertunjukan. Prabu Sulahkromo yang memendam hasrat ingin memiliki istri Patih Sidopekso yang berparas anggun dan halus budi bahasanya, yakni Sri Tanjung lantas menjalankan akal liciknya. 

Sang prabu memerintah Patih Sidopekso menjalankan tugas berat ke luar kerajaan. Prabu yakin, tugas berat tersebut tidak bisa diselesaikan oleh Patih Sidopekso. Maka, ketika Patih Sidopekso menjalankan tapa brata di hutan, Prabu Sulahkromo mendatangi Sri Tanjung. Dia membujuk perempuan berparas elok tersebut agar mau berbuat serong dengan dirinya. Ternyata ajakan tersebut ditolak oleh Sri Tanjung. Sri Tanjung dengan tegas mengatakan tetap setia kepada suami yang sangat dicintainya.

Lantaran bujuk rayunya ditolak, Prabu Sulahkromo berang. Adegan selanjutnya, Prabu Sulahkromo mendengar kabar bahwa Patih Sidopekso masih hidup. Dia kaget. Dia malu dan berusaha mencari cara agar usahanya membujuk Sri Tanjung berbuat serong tidak diketahui Patih Sidopekso. Lagi-lagi Prabu Sulahkromo menjalankan akal liciknya. Ketika Patih Sidopekso kembali setelah menjalankan tugas, ia langsung menghadap Sang Raja. 

Prabu Sulahkromo memfitnah Patih Sidopekso dengan menyampaikan bahwa saat Sang Patih menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja. Tanpa berpikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan. Maka Patih Sidopekso menyeret Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso membunuh istrinya itu, Sri Tanjung menyampaikan satu permintaan terakhir.

Sebagai bukti kejujuran, kesucian, dan kesetiaan, ia rela dibunuh dan meminta jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu. Apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk maka dirinya telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah. Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri. Dia segera menikam keris ke dada Sri Tanjung. Darah memancar dari tubuh Sri Tanjung. Sri Tanjung pun tewas. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke sungai (banyu) dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum atau wangi. 

Loading...

Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh, dan ia jadi linglung, tanpa ia sadari, ia menjerit “Banyu wangi… Banyuwangi”. Dan blepp… seluruh lampu  panggung padam. Riuh tepuk tangan penonton terdengar. Saat lampu kembali menyala, seluruh performer berdiri di tengah pentas. Lagi-lagi penonton memberikan tepuk tangan meriah. Sementara itu, penonton pergelaran cerita rakyat yang digabungkan tari dan seni budaya Banyuwangi yang lain, itu sangat membeludak.

Tidak hanya masyarakat umum, Wakil Bupati (Wabup), Yusuf Widyatmoko; Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), M Yanuarto Bramuda beserta jajarannya; Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Samsudin Adlawi dan jajaran DKB juga menyaksikan pergelaran spektakuler tersebut. Tidak hanya itu, jajaran Dinas Pariwisata Kediri, wisatawan asal Jakarta, jajaran dosen Universitas Jember (Unej), serta wisatawan mancanegara juga menyaksikan pertunjukan kali ini. 

Belum cukup sampai di situ, selain ratusan penonton yang memegang tiket, ribuan warga lain menonton dari luar pagar bambu pemnbatas. Saking banyaknya penonton, sebagian orang yang tidak kebagian tempat rela menyaksikan pertunjukan di bibir sungai. Dalam sambutannya sebelum pertunjukan dimulai, Plt Kepala Disbudpar M Yanuarto Bramuda mengatakan, Kemiren Art Performance mengangkat cerita rakyat Banyuwangi. “Cerita rakyat tentang asa-usul nama Banyuwangi diangkat menjadi tontonan dan tuntunan,” ujarnya pria yang karib disapa Bram tersebut.

Bram menambahkan, Kemiren dipilih sebagai lokasi pertunjukan karena desa tersebut adalah desa adat Banyuwangi. Dia mengaku bangga bahwa meskipun tanpa bantuan APBD, masyarakat Desa Kemiren mampu menyelenggarakan pertunjukan seni budaya spektakuler tersebut. “Ini menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya daerah sangat tinggi,” kata dia. Ketua DKB Samsudin Adlawi mengatakan, malam itu seluruh penonton menjadi saksi inovasi warga Kemiren yang mampu menyelenggarakan pertunjukan seni budaya di atas sungai. 

Sebab, biasanya pentas seni tradisional digelar di taman Blambangan atau RTH yang lain di Banyuwangi. “Ini pergelaran pertama, pada pertunjukan kedua, ketiga, dan selanjutnya, akan menampilkan pertunjukan yang lebih spektakuler,” janjinya. Wabup Yusuf Widyatmoko tidak ketinggalan menyampaikan sanjungan. Menurut dia, apa yang dilakukan Sabtu malam itu merupakan wujud konsistensi masyarakat Kemiren dalam melestarikan seni budaya lokal Banyuwangi.

Apalagi, imbuh wabup, sejak beberapa tahun terakhir Pemkab Banyuwangi semakin gencar melakukan promosi wisata. “Pagelaran seni dan budaya merupakan cara untuk mendukung daya tarik wisatawan ke Bumi Blambangan,” cetusnya. Sementara itu, Tresya, 27, salah satu penonton mengaku sangat terpukau dengan pertunjukan Kemiren Art Performance tersebut. “Luar biasa. Tanpa saya sadari, air mata saya berlinang ketika menyaksikan adegan Sri Tanjung diseret dan dibunuh oleh suaminya. Padahal Sri Tanjung tidak bersalah,” pungkasnya. (radar)

Loading...