Asal-usul Nama Banyuwangi

0
666

panggingKONON, dahulu wilayah ujung timur Pulau Jawa yang alamnya begitu indah ini dipimpin seorang raja bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahan, dia dibantu patih yang gagah berani, arif, dan tampan, yakni Sidopekso. Patih Sidopekso memiliki istri berparas elok dan halus bahasanya, yakni Sri Tanjung.Keelokan wajah dan budi bahasa nan lembut membuat raja tergila-gila kepada istri sang patih.

Sang raja melakukan segala cara agar menggapai hasrat memiliki Sri Tanjung. Maka muncullah akal liciknya. Dia memerintah Patih Sidopekso menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai manusia. Dengan tegas dan gagah berani serta tanpa curiga, sang patih berangkat menjalankan titah Prabu Sulahkromo. Sepeninggal Patih Sidopekso, Prabu Sulahkromo berusaha merayu Sri Tanjung. Namun, bujuk rayu sang raja tidak membuahkan hasil.  

Sri Tanjung teguh pada pendiriannya. Dia tetap setia kepada sang suami. Gara-gara cintanya ditolak, sang raja berang. Ketika Patih Sidopekso kembali setelah menjalankan tugas, ia langsung menghadap sang raja. Akal busuk raja muncul, Prabu Sulahkromo memfitnah Sri Tanjung. Dia menyampaikan bahwa saat Sang Patih menjalankan titah meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan sang raja.

Tanpa berpikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui istrinya penuh kemarahan. Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur bahwa justru sang raja yang berusaha membujuknya, ternyata membuat hati Patih Sidopekso semakin panas. Bahkan, Sang Patih mengancam akan membunuh istri setianya itu. Patih Sidopekso pun menyeret Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun, sebelum Patih Sidopekso membunuh Sri Tanjung, Sri Tanjung menyampaikan satu permintaan terakhir. 

Sebagai bukti kejujuran, kesucian, dan kesetiaan, dia rela dibunuh dan meminta jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu. Apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk, maka dirinya telah berbuat serong. Tapi sebaliknya, jika air sungai berbau harum maka dia tidak bersalah. Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri. Dia segera menikamkan keris ke dada Sri Tanjung. Darah memancar dari tubuh Sri Tanjung. Sri Tanjung pun tewas.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last