Banyuwangi Kembali Salurkan Jaring Pengaman, Kali Ini Skema Gotong Royong ASN

0
289
Foto: banyuwangikab

BANYUWANGI – Jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi bergotong royong membantu warga terdampak persebaran Virus Corona atau Covid-19. Para ASN mengumpulkan ribuan paket sembako berisi beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya.

Dilansir dari banyuwangikab.go.id, bantuan tersebut mulai digulirkan ke warga. Secara simbolis, dilakukan Bupati Abdullah Azwar kepada para penerima yang terdiri atas pedagang kaki lima, penarik ojek online (ojol), dan warga disabilitas dengan menjalankan protokol kesehatan di aula Kantor Camat Banyuwangi, Kamis (9/4/2020). 

“Penyerahan sembako dari ASN ini juga diserahkan secara serentak pada hari ini di seluruh kecamatan se-Banyuwangi, termasuk dengan metode diantar ke rumah-rumah warga terdampak,” ujar Bupati Anas.

Sekretaris Daerah Banyuwangi Mujiono menambahkan, di Banyuwangi terdapat lima skema penyaluran jaring pengaman sosial. Pertama, bersumber dari APBN yang mewujud dalam Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Kedua, skema dari APBD yang menyasar non-penerima PKH dan BPNT. Untuk APBD, dianggarkan paket sembako kepada warga selama tiga bulan dan nanti ditambah sesuai perkembangan. Selain itu, juga ada pelibatan warung rakyat untuk kupon makan pekerja informal yang masih harus bekerja di luar rumah.

“Dari APBD juga dianggarkan paket nutrisi kepada ibu hamil dan ibu menyusui agar nutrisi mereka terjaga meski kondisi ekonomi keluarga menurun. Kemudian ke penyandang disabilitas dan pekerja seni-budaya terdampak. Detil dana APBD kami finalkan tak lama lagi, sekarang proses input data warga terdampak per desa, kisarannya belasan sampai puluhan miliar hanya untuk paket sembako,” ujarnya.

Skema ketiga adalah berbasis gotong royong lembaga amil zakat termasuk donasi dari berbagai pihak, mulai ASN, swasta, hingga BUMN.

“Ini sudah mulai disalurkan ke warga terdampak. Jumlahnya untuk ASN saja hari ini 1.950 paket, dan nanti kami bagikan lagi tahap berikutnya,” ujar Mujiono.  

Skema keempat adalah gotong royong berbasis sekolah yang juga sudah berjalan. Sekolah mendata dan menyalurkan bantuan ke warga terdampak pengalihan belajar ke rumah. 

“Jadi sekolah bergotong royong membantu warga yang selama ini menggantungkan pendapatan ke kegiatan sekolah, seperti pengemudi becak yang tak bisa antar-jemput pelajar, PKL mikro yang berjualan depan sekolah, dan sebagainya. Total dari sekolah menjangkau hampir 10.000 warga,” ujarnya.

“Sudah mulai jalan, seperti SMA Giri bahkan sudah mengumpulkan 3,5 ton beras dan ragam kebutuhan pokok lain. Kemudian sekolah-sekolah di Muncar juga sudah menyalurkan, dan masih banyak lagi,” imbuh Mujiono.

Skema kelima, gotong royong berbasis kecamatan dan desa yang fokus memenuhi kebutuhan pokok Orang Dalam Pemantauan dan Pasien Dalam Pengawasan beserta keluarganya, termasuk di rumah isolasi. Ini dilakukan agar mereka optimal melakukan isolasi tanpa perlu memikirkan kebutuhan pokok.

“Pembagian skema-skema dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih penyaluran. Penyaluran bantuan sendiri akan dilakukan selama tiga bulan dan kembali dievaluasi melihat situasi dan kondisi selanjutnya,” kata Mujiono.