BEC Jadi Etalase Seni-Budaya Banyuwangi

0
1129
Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2017

BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) telah memasuki edisi ketujuh. Rutin digelar sejak 2011, karnaval etnik kontemporer tersebut menjadi etalase seni dan budaya Banyuwangi karena konsisten mengangkat tema yang bersumber dari budaya dan tradisi masyarakat kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Pada perhelatan pertama kali di tahun 2011 silam, BEC mengangkat tema “Gandrung, Damarwulan, dan Kundaran”. Gandrung merupakan seni pertunjukan yang didominasi tarian dan diiringi orkestra khas, yakni Gamelan Oseng.

Awalnya, tarian ini dibawakan laki-laki dan dimanfaatkan sebagai media konsolidasi kekuatan rakyat Bumi Blambangan sekaligus siasat melawan penjajah Belanda. Sedangkan Damarwulan merupakan seni teater tradisional yang bersumber pada cerita dalam serat Damarwulan, serat Kandha, serta layang babad.

Saat ini Damarwulan lahir sebagai instalasi seni pertunjukan dengan dasar cerita menggambarkan peperangan muara Majapahit dengan Blambangan, termasuk kisah Minak Jinggo, Damarwulan, dan Kenconowungu.

Sementara itu, seni Kundaran lahir pasca runtuhnya kerajaan Majapahit. Kala itu, pengaruh Islam telah mewarnai seni dan budaya di Bumi Blambangan. Salah satunya terlihat pada seni Kundaran yang awalnya dibawakan para pria. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Kundaran ditarikan oleh wanita dengan gerak tari yang dinamis namun masih tampak nilai-nilai Islam.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last